Mengenang Johan Tjasmadi Tokoh Film Indonesia yang Telah Tiada
Sabtu, 08 Oktober 2022 - 07:57 WIB
loading...
A
A
A
"Kewajiban saya mengawal selesai," ujarnya masa itu, 25 tahun lalu.
Di dunia film, Pak John memang dikenal pelobi ulung. Kemampuannya sudah teruji mengatasi konflik masyarakat perfilman. Terutama antara produser dan pemilik bioskop yang sama-sama egois. Legacy dari kemahiran lobinya, para produser film Indonesia hingga sekarang menikmati keringanan pajak tontonan (PTO) dari Pemprov DKI Jakarta.
Gagasan itu ia dicetuskan bersama beberapa tokoh perfilman masih di zaman Gubernur DKI Ali Sadikin. Satu lagi gagasannya yang cukup fenomenal di tahun 90-an adalah memproduksi film berdurasi pendek berisi informasi pembangunan. Film itu dipertunjukan mengawali film utama di bioskop. Program itu kelak menginspirasi pengelola bioskop 21 di Indonesia menyediakan slot iklan di seluruh jaringannya.
Misteri Kamera
Masih menjadi "misteri" buat saya ketika akhir Februari lalu Pak John mengirimi satu set kamera koleksinya, "Olympus". Dia menyuruh perawatnya, Kusnadi (bukan Mulyadi seperti ditulis sebelumnya), memberi tahu saya lewat WhatsApp dan mengirimnya ke rumah.
"Saya cuma disuruh begitu Pak. Tapi, bapak memang paling sering menceritakan soal persahabatannya dengan Pak Ilham," kata Mulyadi.
Pak John memang bukan sekali ini memberi hadiah kejutan. Saya naik haji pertama kali di tahun 1991 karena dia mendaftarkan saya dan istri dalam rombongan pembuatan film dokumenter yang digagasnya, "Perjalanan Pak Harto Naik Haji". Saya pertama kali menginjak benua Amerika juga atas prakarsanya.
Film "Bibir Mer" yang disutradarai sineas kondang Arifin C Noer didaftarkan Pak John ikut kompetisi film berbahasa asing di ajang Oscar. Berangkatlah kami ke Los Angeles bersama tokoh pers nasional Rosihan Anwar, Prof Salim Said, wartawan Pos Kota Dimas Supriyanto mengawal film itu. Pak John sendiri tidak ikut.
Pak John memang sosok yang dikenal ringan tangan membantu orang. Ia sering memberi hadiah kejutan kepada banyak kalangan. Kenapa kamera Olympus itu menjadi misteri? Karena waktu itu kondisi kesehatannya cukup kritis, ia baru saja keluar rumah sakit. Saya sempat ragu menerimanya. Seakan dia mengirim firasat ia takkan lama lagi.
Tapi lepas dari itu memang mengharukan karena kebiasaannya memberi masih berlanjut meski dalam keadaan ktitis sakit. Kamera itu karenanya saya simpan dengan baik sebagai kenangan terindahnya.
Tiada Lagi Pak John
Semoga amal ibadahnya, ketulusannya mengabdi kepada dunia film, melancarkan jalannya menemui Allah SWT untuk mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Semudah dan selancar ketika menutup mata selamanya, di hari baik, hari Jumat.
Di dunia film, Pak John memang dikenal pelobi ulung. Kemampuannya sudah teruji mengatasi konflik masyarakat perfilman. Terutama antara produser dan pemilik bioskop yang sama-sama egois. Legacy dari kemahiran lobinya, para produser film Indonesia hingga sekarang menikmati keringanan pajak tontonan (PTO) dari Pemprov DKI Jakarta.
Gagasan itu ia dicetuskan bersama beberapa tokoh perfilman masih di zaman Gubernur DKI Ali Sadikin. Satu lagi gagasannya yang cukup fenomenal di tahun 90-an adalah memproduksi film berdurasi pendek berisi informasi pembangunan. Film itu dipertunjukan mengawali film utama di bioskop. Program itu kelak menginspirasi pengelola bioskop 21 di Indonesia menyediakan slot iklan di seluruh jaringannya.
Misteri Kamera
Masih menjadi "misteri" buat saya ketika akhir Februari lalu Pak John mengirimi satu set kamera koleksinya, "Olympus". Dia menyuruh perawatnya, Kusnadi (bukan Mulyadi seperti ditulis sebelumnya), memberi tahu saya lewat WhatsApp dan mengirimnya ke rumah.
"Saya cuma disuruh begitu Pak. Tapi, bapak memang paling sering menceritakan soal persahabatannya dengan Pak Ilham," kata Mulyadi.
Pak John memang bukan sekali ini memberi hadiah kejutan. Saya naik haji pertama kali di tahun 1991 karena dia mendaftarkan saya dan istri dalam rombongan pembuatan film dokumenter yang digagasnya, "Perjalanan Pak Harto Naik Haji". Saya pertama kali menginjak benua Amerika juga atas prakarsanya.
Film "Bibir Mer" yang disutradarai sineas kondang Arifin C Noer didaftarkan Pak John ikut kompetisi film berbahasa asing di ajang Oscar. Berangkatlah kami ke Los Angeles bersama tokoh pers nasional Rosihan Anwar, Prof Salim Said, wartawan Pos Kota Dimas Supriyanto mengawal film itu. Pak John sendiri tidak ikut.
Pak John memang sosok yang dikenal ringan tangan membantu orang. Ia sering memberi hadiah kejutan kepada banyak kalangan. Kenapa kamera Olympus itu menjadi misteri? Karena waktu itu kondisi kesehatannya cukup kritis, ia baru saja keluar rumah sakit. Saya sempat ragu menerimanya. Seakan dia mengirim firasat ia takkan lama lagi.
Tapi lepas dari itu memang mengharukan karena kebiasaannya memberi masih berlanjut meski dalam keadaan ktitis sakit. Kamera itu karenanya saya simpan dengan baik sebagai kenangan terindahnya.
Tiada Lagi Pak John
Semoga amal ibadahnya, ketulusannya mengabdi kepada dunia film, melancarkan jalannya menemui Allah SWT untuk mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Semudah dan selancar ketika menutup mata selamanya, di hari baik, hari Jumat.
(dra)
Lihat Juga :