IDAI Lalui Proses Panjang untuk Cari Sumber Masalah GGA, Sempat Diduga karena Covid-19
Rabu, 02 November 2022 - 15:44 WIB
loading...
IDAI melakukan berbagai upaya untuk mengetahui apa penyebab GGA yang meningkat dengan melakukan pencarian penyebabnya. Foto Ilustrasi/Freepik
A
A
A
JAKARTA - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) membeberkan secara runut proses pencarian penyebab masalah gagal ginjal akut (GGA) yang kasusnya memuncak pada Agustus lalu.
IDAI melakukan berbagai upaya untuk mengetahui apa penyebab GGA yang meningkat dengan melakukan pencarian penyebab seperti syok hipovolemik atau dehidrasi berat, sindrom hemolitik uremik pascadiare, glomerulonefritis akut, namun hasilnya tidak ditemukan. Bahkan menduga sebagai MISC pasca-Covid, dan dilakukan terapi sebagai MISC namun kondisi pasien tidak membaik. Kemudian dilakukan diskusi dengan Kemenkes yang saat itu sudah ada rekomendasi pada 28 September, namun belum mengarah ke intoksikasi.
IDAI menyatakan cukup frustasi karena kondisi pasien GGA tak kunjung membaik, dengan angka kematian yang cukup tinggi. "Aduh ini kita stres sendiri ya, anak-anak itu masuk rumah sakit, meninggal dan meninggal," Keluh dr. Piprim.
Baca Juga: Ratusan Anak Meninggal akibat Gangguan Ginjal Akut, Ketua IDAI: Ini Kejahatan Kemanusiaan
Lalu proses panjang dilakukan dengan diskusi bersama dokter di Gambia, di mana profil pasien di sana serupa dengan yang ada di Indonesia. Pada kasus di Gambia setelah penarikan obat, angka kejadian menurun drastis yang kemudian dilakukan pemeriksaan ke arah intoksikasi. Hal inilah yang kemudian dilakukan secara tanggap oleh Kemenkes pada 18 Oktober 2022, yang meminta seluruh obat sirup untuk dihentikan edarannya di pasaran.
Pada evaluasi IDAI, tanggal 18-20 Oktober 2022 ditemukan banyak kadar Etilen Glikol (EG) di dalam darah para pasien dengan GGA. Meskipun telah dilakukan pencucian darah terhadap pasien-pasien tersebut, kadar dari EG ini masih cukup tinggi.
IDAI melakukan berbagai upaya untuk mengetahui apa penyebab GGA yang meningkat dengan melakukan pencarian penyebab seperti syok hipovolemik atau dehidrasi berat, sindrom hemolitik uremik pascadiare, glomerulonefritis akut, namun hasilnya tidak ditemukan. Bahkan menduga sebagai MISC pasca-Covid, dan dilakukan terapi sebagai MISC namun kondisi pasien tidak membaik. Kemudian dilakukan diskusi dengan Kemenkes yang saat itu sudah ada rekomendasi pada 28 September, namun belum mengarah ke intoksikasi.
IDAI menyatakan cukup frustasi karena kondisi pasien GGA tak kunjung membaik, dengan angka kematian yang cukup tinggi. "Aduh ini kita stres sendiri ya, anak-anak itu masuk rumah sakit, meninggal dan meninggal," Keluh dr. Piprim.
Baca Juga: Ratusan Anak Meninggal akibat Gangguan Ginjal Akut, Ketua IDAI: Ini Kejahatan Kemanusiaan
Lalu proses panjang dilakukan dengan diskusi bersama dokter di Gambia, di mana profil pasien di sana serupa dengan yang ada di Indonesia. Pada kasus di Gambia setelah penarikan obat, angka kejadian menurun drastis yang kemudian dilakukan pemeriksaan ke arah intoksikasi. Hal inilah yang kemudian dilakukan secara tanggap oleh Kemenkes pada 18 Oktober 2022, yang meminta seluruh obat sirup untuk dihentikan edarannya di pasaran.
Pada evaluasi IDAI, tanggal 18-20 Oktober 2022 ditemukan banyak kadar Etilen Glikol (EG) di dalam darah para pasien dengan GGA. Meskipun telah dilakukan pencucian darah terhadap pasien-pasien tersebut, kadar dari EG ini masih cukup tinggi.
Lihat Juga :