Memahami Demensia dan Penanganannya, Simak Penjelasan Dokter Spesialis Saraf

Kamis, 17 November 2022 - 22:25 WIB
loading...
Memahami Demensia dan...
Harus dipahami, demensia bukanlah penyakit, tetapi merupakan sekelompok kondisi atau sindrom gabungan sejumlah gejala dengan penurunan fungsi kognisi otak. Foto ilustrasi
A A A
JAKARTA - Harus dipahami, demensia bukanlah penyakit, tetapi merupakan sekelompok kondisi atau 'sindrom' gabungan sejumlah gejala dengan penurunan fungsi kognisi otak. Demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer, stroke ataupun penyakit lainnya .



"Secara detail, demensia merupakan kondisi penurunan fungsi konigsi seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai atau juga daya ingat, pola berpikir dan akan menggangu aktifitas penderita. Angka kejadian demensia paling sering terjadi pada usia >=65 tahun," tutur dokter Laura P. Susila Tambunan, M.Kes, Mked(Neu), Sp.N., dari Siloam Hospital Mampang, melalui bincang sehat pada aplikasi live Instagram.

Namun saat ini, lanjut dokter spesialis saraf ini, telah banyak ditemukan kasus demensia pada usia produktif 40-50 tahun. Bahkan telah dilaporkan kasus demensia pada usia 20 tahun. "Demensia pada usia produktif ini dikenal dengan Young Onset Dementia atau Early Onset Dementia," imbujnya. Baca juga: Menyanyi Bisa Menurunkan Risiko Demensia dan Memperpanjang Umur

Dari banyak tipe demensia, data menunjukkan yang paling sering ditemukan adalah demensia Alzheimer yang berhubungan dengan perubahan genetik dan protein di organ otak. "Lalu diikuti oleh Demensia Vaskular yang diakibatkan oleh gangguan pada pembuluh darah otak seperti stroke atau small vessel diseasse," pungkasnya.

Pada edukasi ini, dokter Laura menyampaikan bahwa jenis demensia yang paling sering terjadi adalah penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Alzheimer adalah jenis demensia yang berhubungan dengan perubahan genetik dan perubahan protein di otak. "Sedangkan, demensia vaskular adalah jenis demensia akibat gangguan di pembuluh darah otak," tambahnya.

Lanjut dokter Laura, adapun perbedaan antara pikun dan lupa dengan demensia, yaitu, dari keadaan penderita. Demensia lebih serius untuk ditopang kehidupannya karena demensia disebabkan rusaknya sel saraf dan hubungan antar saraf sel otak yang menyebabkan gangguan kognisi yang mengganggu fungsi sosial, aktifitas dan pekerjaan.

"Faktor resikonya antara lain, pertambahan usia, genetik keluarga, pola makan tidak sehat, jarang berolahraga, dan dapat juga karena merokok dan kecanduan alkohol", ungkapnya. Baca juga: Wajib Tahu, Ini Penyebab Terbesar Anak Muda Bisa Terkena Demensia

Untuk penanganan, sambungnya, screening dan deteksi dini menjadi penting. Sebab, tindakan medis ataupun pengobatan medis modern belum dapat menjamin kesembuhan atau kembali normal pada penderita demensia.

Menurut dokter, apabila sudah ditahapan tertentu, penanganan akan dioptimalkan agar tidak memburuk ke tingkat yang lebih parah. Pemeriksaan saraf, mental dan yang dikenal dengan tes fungsi luhur akan mengawali tindakan diagnosa dan dilanjutkan pemindaian otak, CT scan, MRI atau PET scan dan tindakan pendukung lainnya.

"Diibaratkan sebuah rumah itulah dimensia dan salah satu ruangan di dalamnya adalah alzheimer. Dapat diartikan alzheimer adalah salah satu tipe demensia paling umum", ungkap dr. Laura.

Lebih lanjut, dokter menyampaikan bahwa menjalankan pola hidup sehat, berolahraga rutin, asupan nutrisi cukup sekaligus melatih otak secara berkala juga upaya untuk mencegahnya.

"Termasuk mengelola penyakit penyerta seperti diabetes, kolesterol, hipertensi yang merupakan hal yang dapat dilakukan dalam mencegah keluhan penyakit demensia," tutupnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serangan Jantung Ancam...
Serangan Jantung Ancam Usia Produktif, Siloam Siapkan Sistem Penanganan Terintegrasi
Mudik Lebaran Aman,...
Mudik Lebaran Aman, Siloam Mampang Tekankan Pentingnya Gizi dan Kesehatan Tulang
Duduk Terlalu Lama Ternyata...
Duduk Terlalu Lama Ternyata Bisa Picu Alzheimer, Ini 5 Cara untuk Mencegahnya
Pameran dan Lelang Amal...
Pameran dan Lelang Amal Siloam Hospitals Dukung Skrining Kanker Payudara Gratis
5 Makanan yang Bikin...
5 Makanan yang Bikin Cepat Pikun, Nomor 3 Sering Dikonsumsi
Kondisi Bruce Willis...
Kondisi Bruce Willis Memburuk: Tak Bisa Bicara, Baca, dan Kesulitan Berjalan
Raih Sertifikasi Clinical...
Raih Sertifikasi Clinical Care Program Stroke, Siloam Hospitals Lippo Village Jadi yang Pertama
5 Makanan yang Memicu...
5 Makanan yang Memicu Pikun, Bisa Mengakibatkan Kerusakan Otak
Kolaborasi untuk Beri...
Kolaborasi untuk Beri Ruang Aman bagi Lansia dan ODD
Rekomendasi
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Euforia Suporter Memuncak,...
Euforia Suporter Memuncak, Meksiko Siap Rem Penjualan Alkohol
Berita Terkini
Tembus Pasar Global,...
Tembus Pasar Global, Brand Lokal Queensi Sukses Cetak Rekor 1 Juta Penjualan
Perkenalkan Budaya Aceh,...
Perkenalkan Budaya Aceh, Peserta Audisi Miss Indonesia 2026 Tampil dengan Tari Ratoh Jaroe
Miss Indonesia 2026...
Miss Indonesia 2026 Cari 38 Finalis Terbaik, Audisi Terakhir Digelar di Jakarta
Kabar Duka, Icuk Nugroho...
Kabar Duka, Icuk Nugroho Pemeran Saep di Preman Pensiun Meninggal Dunia
Mengenal Terapi Regeneratif,...
Mengenal Terapi Regeneratif, Pendekatan Medis untuk Peremajaan dan Pemulihan Jaringan
Ruben Onsu Akui Sempat...
Ruben Onsu Akui Sempat Minta Bertemu Anak di Sekolah, Namun Gagal karena Alasan Ini
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved