Dua Pasang Hati

Minggu, 07 Juni 2015 - 08:11 WIB
Dua Pasang Hati
Dua Pasang Hati
A A A
Cowok itu manggutmanggut mengerti. Tetapi sesaat sesudahnya, Ardio memerhatikan mata Lara yang sedikit basah. ”Lo habis nangis, Ra?” tanya cowok itu. Lara terkesiap, begitu cowok itu sadar kalo dia habis mellow.

”Ng... nggak, gue ngantuk.. lagi nungguin obat yang harus gue tebus,” Lara berputar otak mencari alasan. Lagi-lagi, Ardio senyum padanya. ”Oh, syukurlah kalo lo nggak nangis. Gue kira lo kenapa-napa.” Ardio melirik jam tangannya, ”Gue harus balik praktek lagi nih, gue ada pasien.” Ardio menepuk bahu Lara, lalu mencondongkan wajahnya ke telinga Lara, lalu berbisik, ”Take care ya, Ra. Don't fall sickanymore.” Lara tak bergeming, seketika itu tubuhnya tak mampu lagi berdiri, seolah kakinya terpasung di sana.

Ardio.. kenapa dia tiba-tiba jadi aneh gitu? Lara teringat dua hari yang lalu, sebelum adanya insiden terkunci di gudang, cowok itu memujinya. Padahal ketika Ardio dan Echa menjenguknya, cowok itu tampak begitu mesra dengan Echa, kayak biasanya. Kok...? Lara menggelengkan kepalanya, pasti ada apa-apanya nih si Ardio? Sampe berani dia bikin Echa sakit hati, Lara nggak akan segan-segan menghajarnya.

Sepertinya, Lara sudah harus memberi tahu Echa soal ini, batinnya bertekad bulat. Nggak... nggak, kalo Echa tahu, pasti dia akan menyudahi tali persahabatannya. Duh!!! Lara harus gimana dong? Kalo didiemin terus, Ardio akan bertingkah semakin jauh. Nggak boleh! Tanpa disadari Lara dan Ardio, sesosok pria tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia tak berniat untuk menyambangi Lara yang kini duduk sendirian, ia memilih untuk menjauh dari perempuan itu, berpura-pura tidak tahu apa yang sudah dilihatnya.

Beberapa jam kemudian... Jantung Lara cukup berdetak lebih cepat, layaknya bencong yang dikejar-kejar satpol PP dini hari, mendapati Ardio secara tiba-tiba bersikap aneh padanya. Bukan hanya itu, Lara sesungguhnya ingin memberitahu pada Echa, kalau si Ardio tunangannya itu, mulai menunjukkan perilaku busuknya, apalagi menjelang mereka nikah. Astaga, di mana Ardio yang dulu begitu tulus mencintai sahabatnya itu?

Tapi... gimana cara ngasih tau ke Echa ya? Lara belum punya bukti cukup kuat untuk memberi tahu Echa. Apalagi, selama ini Ardio pandai menutupi rasa ketertarikannya pada Lara. Ia bersikap sangat manis pada Echa, seolah nggak ada apa-apa. Maka itu, begitu ia sampai di rumah, Lara melarutkan dirinya pada berkasberkas barang yang harus diletakkannya di ruang para dokter.

Semua pekerjaannya jadi terbengkalai karena insiden waktu itu. Alih-alih beristirahat agar mempercepat pemulihannya, Lara teringat sesuatu. Jam tangan yang ditemukannya di kamar waktu itu, sama sekali tak berpemilik. Lara lupa ingin menyerahkannya di bagian berwajib di rumah sakit. Kalau dipikir-pikir, apa benar ada seseorang yang menyelinap di kamarnya waktu itu? Soalnya, Lara merasa cukup aneh dengan kamar yang dia tinggali selama beberapa hari.

Dokter jaga, jarang banget datang memeriksa keadaannya, hanya sekali-waktu ia mau pulang dari rumah sakit. Selebihnya? Nggak ada, cuma perawat saja yang memeriksa keadaan dan menawarkannya sarapan, makan siang dan makan malam. Lalu... masih teringat jelas di pikirannya, Lara begitu yakin bahwa ada seseorang yang menyelinap di kamarnya waktu itu. Meski samar-samar ia lihat, tapi ia bisa mengenali bayangan sosok berjas dokter seolah menjauh dari ruangannya.

Lara bergidik ngeri, jangan-jangan ini rumah sakit ada hantunya, lagi! Amit-amit deh. Lara mengeluarkan jam tangan tak berpemilik itu, siapa ya... yang kira-kira yang punya jam tangan semahal ini? Lihat saja berlianberlian kecil yang menghiasi pada pinggiran lingkaran jam tangannya... pasti asli. Masa sih ada orang yang sengaja ninggalin jam tangan semahal ini di kamar? Lara menggelengkan kepalanya, ah... nggak bisa.

Pokoknya besok harus kasih ke pihak rumah sakit. Harus! Tok! Tok! Suara ketukan pintu hampir saja membuat jantung Lara keluar tiba-tiba. Lara segera bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah ke pintu. Siapa ya, soresore gini dateng ke rumah? Pikir Lara. Siapa lagi yang tau, selain Echa atau Ardio? Masa Ardio? Amit-amit! Awas aja dia kalo berani, pasti Lara sudah melayangkan tonjokkan padanya.

Dengan hati-hati, Lara membuka pintu rumahnya. Mata cewek itu sedikit menyipit, memastikan siapa yang datang. Dari arah yang berlawanan, seorang laki-laki sekitar tiga puluh empat tahun melambaikan tangannya, ia mengurai senyum. (bersambung)

Oleh:
Vania M. Bernadette
(ars)
Berita Terkait
Bikin Sulit Bernapas,...
Bikin Sulit Bernapas, Hindari Pemicu Asma dengan Mosehat
Kejutkan Pelanggan,...
Kejutkan Pelanggan, Brand Fashion Lokal Ini Bagikan Pandora Box
Mengandung Ekstrak Daun...
Mengandung Ekstrak Daun Kelor, Mosehat Diyakini Mampu Luruhkan Batu Ginjal
Jaga Kebersihan Lantai...
Jaga Kebersihan Lantai agar Selalu Nyaman Berada di Rumah
Dukung Pemulihan Pariwisata,...
Dukung Pemulihan Pariwisata, Eazy Property Lavaya Bali Gelar Soft Launching
Penunjang Kinerja Profesional...
Penunjang Kinerja Profesional dengan Mobilitas Tinggi
Berita Terkini
INDOFEST 2026 Digelar,...
INDOFEST 2026 Digelar, Taffware Tawarkan Diskon Perlengkapan Outdoor Besar-besaran
2 jam yang lalu
Pendakian Gunung Meningkat,...
Pendakian Gunung Meningkat, Menhut Siapkan Pengaturan untuk Cegah Kecelakaan dan Sampah
9 jam yang lalu
Clara Shinta Tegaskan...
Clara Shinta Tegaskan Tak Punya Catatan Kriminal, SKCK Jadi Bukti di Tengah Polemik
10 jam yang lalu
Latihan Kaki Tak Hanya...
Latihan Kaki Tak Hanya Bakar Kalori, Ternyata Penting untuk Keseimbangan Hormon
10 jam yang lalu
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
10 jam yang lalu
Sinopsis Terikat Janji...
Sinopsis 'Terikat Janji' 4 Juni 2026: Identitas Aslinya Runtuh, Sena Rela Pikul Kesalahan Sendiri demi Lindungi Davina
13 jam yang lalu
Infografis
Hati-hati! Ini 10 Tanda...
Hati-hati! Ini 10 Tanda Kolesterol Tinggi yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved