CDC Sebut Reaksi Alergi Parah terhadap Vaksin COVID-19 Jarang Terjadi

Kamis, 14 Januari 2021 - 07:43 WIB
"Tingkat anafilaksis untuk vaksin COVID-19 mungkin tampak tinggi dibandingkan dengan vaksin flu. Tetapi, saya ingin meyakinkan Anda bahwa ini masih merupakan hasil yang langka," kata Dr. Nancy Messonnier, Direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan CDC, seperti dikutip dari CNN.

CDC menyebutkan, reaksi alergi muncul dalam beberapa menit setelah mendapatkan vaksin. CDC memiliki informasi tentang 20 dari 21 pasien dan mereka semua sembuh.

Anafilaksis adalah reaksi alergi yang parah, tetapi dengan pengobatan biasanya sembuh dengan cepat. CDC sejauh ini tidak melihat bukti reaksi geografis dan tak ada petunjuk bahwa ada kelompok yang buruk. Vaksin yang diberikan kepada orang-orang yang mengalami reaksi tidak berasal dari kelompok yang sama.

Messonnier menjelaskan, dari orang-orang yang mengalami reaksi alergi parah, 17 memiliki riwayat alergi seperti alergi obat-obatan, produk medis, makanan, dan serangga. Tetapi, alergi seperti itu biasa terjadi dan jumlah reaksinya sangat jarang. Jadi CDC mengatakan, orang dengan alergi umum tidak perlu khawatir tentang vaksinasi, namun tetap harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan sebelum melakukannya.

Orang dengan reaksi alergi parah terhadap bahan-bahan dalam vaksin Pfizer maupun Moderna, seperti polisorbat dan polietilen glikol, sebaiknya tidak mendapatkan vaksin. Orang yang mengalami reaksi alergi terhadap dosis pertama sebaiknya tidak mendapatkan dosis kedua untuk saat ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!