Penerapan Prokes Kunci Keamanan Pembelajaran Tatap Muka
Rabu, 13 Oktober 2021 - 21:50 WIB
Chief of Water, Sanitation and Hygiene (WASH) UNICEF Indonesia Kannan Nadar menambahkan, ada banyak dampak negatif pada anak-anak dari penutupan sekolah yang berkepanjangan. Konsekuensinya akan semakin parah terutama pada anak-anak yang paling rentan yaitu di pedesaan, daerah terpencil, dan mereka yang memiliki disabilitas.
Kondisi tersebut termasuk meningkatnya angka putus sekolah, penurunan prestasi belajar anak-anak dengan banyaknya peserta didik yang diperkirakan akan mengalami kehilangan belajar, serta dampak pada kesejahteraan psikososial dan kesehatan mental mereka yang disebabkan oleh isolasi sosial yang berkepanjangan, ditambah dengan ketidakpastian ekonomi.
"Di masa PTM terbatas ini, ketersediaan fasilitas air bersih, sanitasi, dan kebersihan sangat penting untuk kelancaran sekolah," ujar Kannan.
"Cuci tangan pakai sabun perlu diprioritaskan di semua sekolah, permukaan yang bersentuhan harus secara rutin didesinfeksi, dan dana Bantuan Operasional Sekolah perlu secara kreatif digunakan untuk meningkatkan akses WASH dengan tetap menjaga fasilitas yang ada,” lanjutnya.
Keamanan siswa tentu menjadi poin utama PTMT, khususnya di tingkat sekolah dasar, mengingat baru anak usia di atas 12 tahun yang mendapatkan vaksinasi. Selain itu, ancaman terkait Long COVID-19 pada anak juga perlu menjadi perhatian khusus.
Penelitian Stephenson, et al. pada 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak yang terkena COVID-19 masih memiliki gejala sampai 15 minggu kemudian. Mengenai hal ini, Pakar Epidemiologi Universitas Gajah Mada Dr. Bayu Satria Wiratama menerangkan, peranan Satgas COVID-19 sekolah harus melibatkan guru, orangtua/wali murid, serta warga sekolah lain, termasuk masyarakat sekitar.
Kondisi tersebut termasuk meningkatnya angka putus sekolah, penurunan prestasi belajar anak-anak dengan banyaknya peserta didik yang diperkirakan akan mengalami kehilangan belajar, serta dampak pada kesejahteraan psikososial dan kesehatan mental mereka yang disebabkan oleh isolasi sosial yang berkepanjangan, ditambah dengan ketidakpastian ekonomi.
"Di masa PTM terbatas ini, ketersediaan fasilitas air bersih, sanitasi, dan kebersihan sangat penting untuk kelancaran sekolah," ujar Kannan.
"Cuci tangan pakai sabun perlu diprioritaskan di semua sekolah, permukaan yang bersentuhan harus secara rutin didesinfeksi, dan dana Bantuan Operasional Sekolah perlu secara kreatif digunakan untuk meningkatkan akses WASH dengan tetap menjaga fasilitas yang ada,” lanjutnya.
Keamanan siswa tentu menjadi poin utama PTMT, khususnya di tingkat sekolah dasar, mengingat baru anak usia di atas 12 tahun yang mendapatkan vaksinasi. Selain itu, ancaman terkait Long COVID-19 pada anak juga perlu menjadi perhatian khusus.
Penelitian Stephenson, et al. pada 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak yang terkena COVID-19 masih memiliki gejala sampai 15 minggu kemudian. Mengenai hal ini, Pakar Epidemiologi Universitas Gajah Mada Dr. Bayu Satria Wiratama menerangkan, peranan Satgas COVID-19 sekolah harus melibatkan guru, orangtua/wali murid, serta warga sekolah lain, termasuk masyarakat sekitar.
Lihat Juga :