Perkuat Komitmen untuk Tangani Permasalahan Sampah Plastik di Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Kamis, 08 Juni 2023 - 21:00 WIB
loading...
Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengangkat tema krisis polusi sampah plastik yang sedang dihadapi masyarakat dunia. Foto Ilustrasi/Daily
A
A
A
JAKARTA - Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengangkat tema krisis polusi sampah plastik yang sedang dihadapi masyarakat dunia. Isu ini menjadi perhatian karena secara global manusia memproduksi lebih dari 430 juta ton plastik setiap tahun, di mana dua per tiganya berumur pendek dan dengan cepat menjadi limbah, mencemari lingkungan dan bahkan masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Di Indonesia, dari 19,45 juta ton timbulan sampah pada 2022, 18,4%-nya adalah sampah plastik (3,6 juta ton). Sementara, hanya 9% sampah plastik yang bisa didaur ulang, sisanya 12% dibakar dan 79% berakhir di TPA serta mencemari lingkungan.
Konsep ekonomi sirkular dipercaya bisa menjadi solusi untuk memerangi polusi sampah plastik secara berkelanjutan. Tidak hanya memiliki nilai tambah bagi lingkungan, pendekatan ini juga memberi dampak pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia menilai, ekonomi sirkular sejalan dengan komitmen perusahaannya dalam upaya membangun planet yang lebih lestari.
"Komitmen kami meliputi mengurangi penggunaan plastik, menggunakan plastik yang lebih baik, dan menghadirkan inisiatif tanpa plastik. Salah satunya melalui upaya dan investasi yang signifikan dalam hal pengumpulan dan pemrosesan sampah plastik," kata Maya dalam dialog lintas sektor yang digelar secara online belum lama ini.
Pada 2022, lanjut Maya, Unilever Indonesia telah berhasil mengumpulkan dan memproses sebanyak 62.360 ton sampah plastik, di mana jumlah ini juga sudah diaudit oleh auditor pihak ketiga.
"Pencapaian ini sejalan dengan komitmen kami secara global yakni membantu pengumpulan dan pemrosesan kemasan plastik lebih banyak dari yang dijual,” katanya.
Di Indonesia, dari 19,45 juta ton timbulan sampah pada 2022, 18,4%-nya adalah sampah plastik (3,6 juta ton). Sementara, hanya 9% sampah plastik yang bisa didaur ulang, sisanya 12% dibakar dan 79% berakhir di TPA serta mencemari lingkungan.
Konsep ekonomi sirkular dipercaya bisa menjadi solusi untuk memerangi polusi sampah plastik secara berkelanjutan. Tidak hanya memiliki nilai tambah bagi lingkungan, pendekatan ini juga memberi dampak pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia menilai, ekonomi sirkular sejalan dengan komitmen perusahaannya dalam upaya membangun planet yang lebih lestari.
"Komitmen kami meliputi mengurangi penggunaan plastik, menggunakan plastik yang lebih baik, dan menghadirkan inisiatif tanpa plastik. Salah satunya melalui upaya dan investasi yang signifikan dalam hal pengumpulan dan pemrosesan sampah plastik," kata Maya dalam dialog lintas sektor yang digelar secara online belum lama ini.
Pada 2022, lanjut Maya, Unilever Indonesia telah berhasil mengumpulkan dan memproses sebanyak 62.360 ton sampah plastik, di mana jumlah ini juga sudah diaudit oleh auditor pihak ketiga.
"Pencapaian ini sejalan dengan komitmen kami secara global yakni membantu pengumpulan dan pemrosesan kemasan plastik lebih banyak dari yang dijual,” katanya.
Lihat Juga :