Patuhi Protokol Kesehatan, Jangan Tunda Pengobatan Kanker
Senin, 27 Juli 2020 - 11:16 WIB
loading...
A
A
A
Dijelaskan dr. Haridini Intan Mahdi SpA(K) Konsultan Hematologi Onkologi Anak dari RS Kanker Dharmais, gejala demam bisa dianggap sebagai suspek Covid-19 pada pasien kanker anak, sehingga harus menjalani tes PCR.
“Orangtua tidak perlu khawatir karena ini adalah bagian dari pemeriksaan rutin. Jika tidak terbukti, maka anak akan menjalani perawatan seperti biasa dan tidak perlu menjalani isolasi,” jelas dokter yang biasa disapa dr. Tanti ini.
Hanya memang, lanjut dr. Tanti, pasien kanker anak termasuk pasien imunokompromise, yakni kekebalan tubuhnya rendah. Mereka rentan terkena infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Perlu penjagaan ekstra agar tidak tertular.
Salah satu upaya melindungi pasien kanker anak dari penularan Covid-19 adalah menempatkannya di ruangan khusus saat menjalani perawatan di rumah sakit, skirining Covid-19 rutin, dan menerapkan protokol pencegahan pada umumnya yakni menerapkan PHBS, rajin cuci tangan, gunakan masker, dan minum vitamin jika perlu.
Tidak ada penanganan khusus, hanya perlindungan yang lebih ketat. Sebelum pandemi pun, bila ada anak penderita kanker di rumah, kemudian ada tamu datang, maka si tamu harus cuci tangan atau menggunakan masker. Setelah tamu pulang, personal hygiene pun harus diterapkan. (Lihat videonya: 7 Langkah Amankan Tayangan YouTUbe untuk Anak-anak)
“Saya paham betul bahwa tidak mudah meminta anak yang masih kecil menggunakan masker. Maka saya minta orangtua dari anak penderita kanker tidak bosan menjaga protokol pencegahan setiap saat,” jelas dr. Tanti. Protokol ketat ini dilakukan sampai anak selesai pengobatan.
Jika perlu meskipun pengobatan sudah selesai namun pandemi sudah berkurang, aktivitas anak di luar rumah masih dibatasi. Jangan sekolah dulu. “Anak dengan kanker jika terinfeksi Covid-19, maka konsekuensinya lebih berat. Jadi dibatasi pergaulannya. Orang tua bisa mendampingi anak bermain dan belajar di rumah, sampai dinyatakan remisi dan berhenti pengobatan,” pungkas dr. Tanti. (Sri Noviarni)
“Orangtua tidak perlu khawatir karena ini adalah bagian dari pemeriksaan rutin. Jika tidak terbukti, maka anak akan menjalani perawatan seperti biasa dan tidak perlu menjalani isolasi,” jelas dokter yang biasa disapa dr. Tanti ini.
Hanya memang, lanjut dr. Tanti, pasien kanker anak termasuk pasien imunokompromise, yakni kekebalan tubuhnya rendah. Mereka rentan terkena infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Perlu penjagaan ekstra agar tidak tertular.
Salah satu upaya melindungi pasien kanker anak dari penularan Covid-19 adalah menempatkannya di ruangan khusus saat menjalani perawatan di rumah sakit, skirining Covid-19 rutin, dan menerapkan protokol pencegahan pada umumnya yakni menerapkan PHBS, rajin cuci tangan, gunakan masker, dan minum vitamin jika perlu.
Tidak ada penanganan khusus, hanya perlindungan yang lebih ketat. Sebelum pandemi pun, bila ada anak penderita kanker di rumah, kemudian ada tamu datang, maka si tamu harus cuci tangan atau menggunakan masker. Setelah tamu pulang, personal hygiene pun harus diterapkan. (Lihat videonya: 7 Langkah Amankan Tayangan YouTUbe untuk Anak-anak)
“Saya paham betul bahwa tidak mudah meminta anak yang masih kecil menggunakan masker. Maka saya minta orangtua dari anak penderita kanker tidak bosan menjaga protokol pencegahan setiap saat,” jelas dr. Tanti. Protokol ketat ini dilakukan sampai anak selesai pengobatan.
Jika perlu meskipun pengobatan sudah selesai namun pandemi sudah berkurang, aktivitas anak di luar rumah masih dibatasi. Jangan sekolah dulu. “Anak dengan kanker jika terinfeksi Covid-19, maka konsekuensinya lebih berat. Jadi dibatasi pergaulannya. Orang tua bisa mendampingi anak bermain dan belajar di rumah, sampai dinyatakan remisi dan berhenti pengobatan,” pungkas dr. Tanti. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :