Jaga Kualitas Udara, Warga Jakarta Diajak Setop Bakar Sampah Sembarangan
Rabu, 12 Agustus 2020 - 09:09 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, lanjut Novita, aktivitas pembakaran sampah juga turut dilakukan oleh industri dan pada praktiknya, pengawasan dan penindakan terhadap aktivitas ini juga dilakukan secara tidak transparan oleh pemerintah DKI Jakarta. "Melalui petisi ini, saya meminta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengambil langkah preventif dalam menanggulangi masalah polusi udara di Jakarta yang disebabkan oleh pembakaran sampah baik oleh masyarakat maupun industri," sebutnya.
Sebelumnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di isu lingkungan, Greenpeace, mengeluarkan rilis terkait kualitas udara Jakarta di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih dalam kategori tidak sehat.
"Selama penerapan PSBB, kualitas udara di Jakarta tidak mengalami perbaikan yang signifikan. Terhitung sejak 10 April-4 Juni 2020, tingkat konsentrasi PM 2.5 berada pada kategori Moderate dan Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif. Bahkan di Jakarta Selatan ada 24 hari tidak sehat," ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam rilis yang tertuang di laman greenpeace.org.
(Baca juga: Ini Waktu yang Tepat untuk Berolahraga )
Menurut Greenpeace, kualitas udara selama masa awal bekerja di rumah, masa PSBB diberlakukan dan Masa Transisi konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. "Adaptasi kebiasaan baru atau kondisi new normal yang digaungkan pemerintah, hanya terletak pada protokol kesehatannya saja, tapi upaya perbaikan polusi udara dengan menekan dan mengontrol sumber pencemarnya tidak ada yang berubah," pungkasnya.
Sebelumnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di isu lingkungan, Greenpeace, mengeluarkan rilis terkait kualitas udara Jakarta di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih dalam kategori tidak sehat.
"Selama penerapan PSBB, kualitas udara di Jakarta tidak mengalami perbaikan yang signifikan. Terhitung sejak 10 April-4 Juni 2020, tingkat konsentrasi PM 2.5 berada pada kategori Moderate dan Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif. Bahkan di Jakarta Selatan ada 24 hari tidak sehat," ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam rilis yang tertuang di laman greenpeace.org.
(Baca juga: Ini Waktu yang Tepat untuk Berolahraga )
Menurut Greenpeace, kualitas udara selama masa awal bekerja di rumah, masa PSBB diberlakukan dan Masa Transisi konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. "Adaptasi kebiasaan baru atau kondisi new normal yang digaungkan pemerintah, hanya terletak pada protokol kesehatannya saja, tapi upaya perbaikan polusi udara dengan menekan dan mengontrol sumber pencemarnya tidak ada yang berubah," pungkasnya.
(nug)
Lihat Juga :