alexametrics

Risiko dan Penyebab Kanker Nasofaring yang Perlu Anda Ketahui

loading...
Risiko dan Penyebab Kanker Nasofaring yang Perlu Anda Ketahui
Ilustrasi. / Foto: Mims
A+ A-
JAKARTA - Kanker nasofaring, penyakit yang diderita Ustaz Arifin Ilham di sebagian besar kasus tidak diketahui penyebab pasti. Tetapi para ilmuwan telah menemukan bahwa penyakit mematikan ini terkait dengan diet, infeksi, dan karakteristik bawaan tertentu.

Dilansir dari Cancer.org, dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah mempelajari bagaimana virus Epstein-Barr (EBV) dapat menyebabkan sel-sel di nasofaring menjadi kanker, tetapi masih banyak yang harus dipelajari. Di negara maju, kebanyakan orang yang terinfeksi EBV memiliki mononukleosis (mono) yang menular, dan sistem kekebalan tubuh mereka mampu mengenali dan menghancurkan virus.

(Baca juga: Mengenal Penyakit Ustaz Arifin Ilham, mulai Getah Bening hingga Kanker Nasofaring)



Orang dengan kondisi tersebut pulih tanpa masalah jangka panjang. Tetapi dalam beberapa kasus, potongan-potongan DNA EBV bercampur dengan DNA sel-sel di nasofaring. DNA adalah bahan kimia di setiap sel tubuh yang membentuk gen serta instruksi untuk cara kerja sel tubuh. Misalnya, kita sering terlihat seperti orang tua kita karena mereka adalah sumber DNA kita.

Tetapi DNA lebih mempengaruhi daripada penampilan seseorang. Beberapa gen mengandung instruksi yang mengontrol kapan sel tumbuh dan membelah diri menjadi sel baru. Virus seperti EBV juga mengandung DNA. Ketika sebuah sel terinfeksi virus, DNA virus dapat bercampur dengan DNA manusia normal. Kemudian DNA EBV dapat menginstruksikan sel-sel nasofaring untuk membelah dan tumbuh secara abnormal.

(Baca juga: Kenali Kanker Nasofaring Seperti yang Diderita Ustaz Arifin Ilham)

Namun, infeksi EBV jarang mengarah ke kanker nasofaring sehingga faktor-faktor lain dinilai juga berperan dalam menyebabkan kanker atau tidak. Seperti halnya mengonsumsi makanan yang mengandung garam dan daging yang diawetkan dengan garam tinggi atau makanan asinan dapat meningkatkan EBV untuk menyebabkan kanker nasofaring. Makanan ini bisa sangat tinggi dalam nitrat dan nitrit, yang bereaksi dengan protein untuk membentuk nitrosamin. Zat kimia ini dapat merusak DNA kemudian mengubah kemampuan sel untuk mengendalikan pertumbuhan dan replikasi.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa mewarisi jenis jaringan tertentu dapat berkontribusi pada risiko seseorang terkena kanker nasofaring. Karena tipe jaringan berperan dalam fungsi sistem kekebalan tubuh, beberapa ilmuwan menduga bahwa reaksi imun abnormal terhadap infeksi EBV mungkin menjadi pemicu. Cancer Research UK menyebutkan bahwa risiko dan penyebab kanker nasofaring tergantung pada banyak hal termasuk usia, genetika, gaya hidup dan faktor lingkungan.

(Baca juga: Waspadai 12 Gejala Kanker Nasofaring)

Orang yang pernah merokok memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Risiko lebih tinggi pada perokok jangka panjang. Orang yang terpapar debu kayu melalui pekerjaannya juga memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Meski tidak diketahui persis bagaimana debu kayu dapat meningkatkan risiko kanker, tetapi bisa jadi dari menghirup bahan kimia dari kayu. Orang yang terpapar formaldehyde juga memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Formaldehyde merupakan bahan kimia industri yang digunakan untuk membuat bahan kimia dan bahan bangunan lainnya.

(Baca juga: 6 Pengobatan Kanker Nasofaring Seperti yang Dialami Ustaz Arifin Ilham)

Selain itu, orang-orang yang memiliki kondisi telinga, hidung dan tenggorokan kronis di masa lalu memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Kondisi-kondisi ini termasuk hidung tersumbat dan pilek (rinitis) kronis, infeksi telinga tengah (otitis media) dan polip. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa minum alkohol dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring, tetapi hal ini belum ada bukti yang jelas. Namun minum alkohol dapat menyebabkan kanker kepala dan leher lainnya.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak