alexametrics

Semakin Berkembang, Maternal Disaster Tetap Jaga Desain Orisinal

loading...
Semakin Berkembang, Maternal Disaster Tetap Jaga Desain Orisinal
Selain di Bandung, flagship store Maternal Disaster juga hadir di Medan, Yogyakarta, Bali dan Malang. / Foto: Instagram @maternaldisaster
A+ A-
BANDUNG - Bukanlah perkara mudah bagi Vidi Nurhadi untuk membangun dan mengembangkan usaha brand clothing Maternal Disaster miliknya. Vidi mulai membangun usahanya tersebut sejak 2003. Kala itu dia juga hanya iseng, dan tidak ada niatan untuk berbisnis.

Namun, seiring berjalannya waktu Maternal Disaster pun semakin berkembang dan sangat dikenal di kalangannya. Berawal dari iseng, kini Maternal sudah memiliki lima toko sendiri, dan memiliki puluhan tenaga kerja, serta menyedot omzet ratusan juta rupiah tiap bulannya.

Vidi-Mateternal-Disaster-02



"Kalau flagship atau toko sih ada lima sekarang. Di Bali, Jogja, Bandung, Malang, dan Medan. Kalau toko yang dikelola sendiri ya. Tapi kalau yang reseller sih sudah ada banyak ya, sampai Jakarta juga ada," kata Vidi saat di toko Maternal di Bandung, belum lama ini.

Hingga saat ini, desain Maternal masih mempertahankan hal-hal yang terinpirasi dari film horor dan musik cadas. Menurut Vidi, produk-produk seperti Maternal ini pada akhirnya akan mencari pasarnya sendiri. "Kita enggak usah ikut-ikutan gimana gitu. Cuma kalau di Matenal kita ada rumus," ucapnya.

(Baca juga: Begini Kisah Perjalanan Vidi Membangun Maternal Disaster)

Rumus yang dimaksud Vidi adalah 40-40-20 dari 100 persen. Sebanyak 40 persen pertama merupakan desain orisinal Maternal, lalu 40 persen selanjutnya hanya logo, dan 20 persen sisanya hasil eksperimen. "Kita itu hitam terus kan ya kaosnya, bosan juga kan, akhirnya kita coba bikin warna biru atau lainnya, jadi biar enggak bosan di kitanya juga," paparnya.

Vidi pun mengungkapkan bahwa masalah desain di Maternal masih dirinya sendiri yang mengerjakan, dan terdapat ilustrator tersendiri. "Cuma kalau saya ada yang submit desain, ada artis/seniman yang memang saya suka, saya beli desainnya," kata dia.

Kemampuan Vidi dalam mendesain juga didapatnya secara autodidak. Semasa Sekolah Dasar (SD), Vidi memiliki kegemaran untuk menggambar di tangan teman-temannya. Ketika lanjut ke sekolah menengah, Vidi pun seringkali melakukan corat-coret di tembok.

"Dulu masuk kuliah di desain produk, juga enggak diajarin gambar sebenarnya. Ada mata kuliah gambar, tapi bukan yang detail-detail," sambung bapak satu anak ini.

Dari kali pertama hadir dengan produk-produk yang terbatas, kini Maternal Disaster bisa memproduksi jaket, topi, sweater dan semua aksesoris hingga 120 artikel. "Kita Maternal dalam setahun ada 6 issue, dalam dua bulan ada satu issue. Dan satu issue-nya itu ada sekitar 120 artikel," kata Vidi.

"Untuk produk, semua ada. Bola basket ada, sarung tinju ada, celana dalam ada, kacamata ada, sepatu ada, sandal ada, kaos kaki ada, segalanya ada," tambahnya.

Vidi-Mateternal-Disaster-01

Sementara itu, karena dinilai sukses membangun dan mengembangkan brand Maternal, Vidi kerap kali diundang untuk berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada audiensi, salah satunya program entreprenuership Magnumotion di Sukabumi, belum lama ini.

"Kebanyakan sharing perihal tadi (membangun Maternal), dari awal sampai akhir itu. Kayak gimana proses produksinya, gimana proses promosinya, proses jualannya gimana, proses desainnya gimana. Dari situ juga, ternyata masih banyak yang belum mengerti, maksudnya, kalau saya berpikirnya orang-orang sudah pada tahu, ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa proses-prosesnya itu memang panjang. Dan situ akhirnya banyak sharing juga," terang Vidi yang mengaku tidak terlalu cakap berbicara di depan khalayak.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak