Nadia Mulya Berbagi Tentang Peace of Mind dalam Hidup
Rabu, 27 Agustus 2025 - 10:55 WIB
loading...
publik figur dan penggiat lingkungan, Nadia Mulya.
A
A
A
JAKARTA - Asuransi seringkali hanya dipandang sebagai produk finansial, padahal bagi sebagian orang ia adalah bentuk proteksi dan warisan bagi keluarga. Hal ini juga ditegaskan oleh publik figur dan penggiat lingkungan, Nadia Mulya, menilai bahwa kesadaran akan pentingnya asuransi sangat erat kaitannya dengan literasi keuangan dan kesejahteraan keluarga.
Nadia mengungkapkan pengalamannya ketika berinteraksi dengan masyarakat pesisir. Nadia menyoroti bahwa banyak keluarga di daerah pesisir masih berjuang dengan literasi dasar, sehingga asuransi sering dianggap kebutuhan tersier.
"Ya kalau-kalau aku ya memang aku sangat setuju ya karena kalau aku mungkin agak sedikit beda nih jalurnya.Aku banyak berurusan dengan lingkungan dan dengan masyarakat yang di pesisir dan sebagainya dan saya juga kadang-kadang suka terlihat gitu ya namanya financial literacy itu seperti suatu hal yang sangat jauh dengan mereka," ujar Nadia Mulya di kawasan Rasuna Said Jakarta Selatan, kemarin.
Wanita kelahiran Jakarta, 19 Februari 1980 ini menambahkan pengalamannya bersama anak-anak nelayan yang masih kesulitan dalam hal keuangan dasar. Pernyataan ini seolah ingin menggambarkan adanya kesenjangan pemahaman, di mana asuransi belum menjadi prioritas bagi sebagian besar masyarakat.
"Aku bahkan juga sempat ketemu dengan anak-anak nelayan ketika ditanya mengenai menabung, ditanya mengenai berhitung aja mereka masih kesulitan gitu. Jadi saya bisa paham ya, bagaimana kita negara berkembang melihat hal ini sebagai kebutuhan yang masih lini ketiga lah sesudah kebutuhan yang paling utamanya," ungkap Nadia.
Meski demikian, Nadia menekankan bahwa asuransi sangat relevan jika dikaitkan dengan tanggung jawab keluarga. Baginya, proteksi bukan sekadar melindungi aset, tetapi juga meninggalkan warisan ketenangan bagi generasi berikutnya.
"Tapi menurut saya sudah merupakan tanggung jawab dari terutama ya, dalam konteks keluarga tadi yang Pak Anwar katakan dan sangat relevan dengan kita semua. Sebagai kepala keluarga, memang sangat penting kita untuk bisa mewariskan that peace of mind, ke keluarga itu, kepada anak-anak kita. Makanya klop banget nih, pembahasannya mengenai keluarga, mengenai legacy, mengenai proteksi, mengenai peace of mind," sambungnya.
Nadia Mulya menekankan bahwa kebutuhan akan asuransi seharusnya tumbuh seiring dengan peningkatan pendapatan dan pengalaman hidup. Dengan kata lain, semakin tinggi kompleksitas kehidupan, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki perlindungan finansial.
"Jadi ya kita kembalikan dulu ya kepada setiap orang. Seharusnya dengan semakin meningkatnya bukan hanya saja dari sisi pendapatan, tapi mungkin exposure mereka terhadap kehidupan, mereka semakin membutuhkan proteksi," ujarnya.
Lebih lanjut, Nadia menyoroti beragamnya pilihan produk asuransi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pandangan ini menegaskan bahwa asuransi bukanlah beban, melainkan instrumen fleksibel yang dapat diatur sesuai kondisi ekonomi dan gaya hidup.
Baginya proteksi itu membuatnya yakin juga ada banyak sekali ya, ada banyak ukurannya, banyak nominalnya, banyak bentuknya, banyak coverage-nya yang bisa disesuaikan dengan setiap kebutuhan kita.
Jadi menurut aku, itu sudah merupakan suatu kebutuhan. Sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain yang terutama berkaitan dengan orang-orang yang hidup di kota besar. Tinggal dikonsultasikan saja sih mana yang paling tepat untuk kita," kata perempuan yang memulai karir dunia hiburan melalui dunia modeling ini.
“Kalau aku pemain yang sangat prudent ketimbang berspekulasi melihat karakter dan kebutuhan kita apalagi aku saat ini untuk pendidikan anak sekolah,”sambungnya.
Nadia Mulia pun tak menampik bahwa ikut asuransi ini merupakan bagian dari investasi apalagi dunia hiburan cost itu selalu ada dan kerja sebagai entertain atau pengusaha itu walaupun tidak pasti tapi lalo dapat kontrak besar bisa invest karena gak tau akan terjadi kedepannya.
Sementara itu, Great Eastern Life Indonesia melalui produk GREAT Legacy Assurance pada bulan Maret lalu. Dalam lima bulan sejak diluncurkan, produk ini mencatat perolehan Premi sebesar Rp14 miliar dan nilai Uang Pertanggungan mencapai lebih dari Rp173 miliar.
Direktur Pemasaran Great Eastern Life Indonesia Roy Hendrata Gozalie mengatakan, pihaknya menyasar segmen afluent atau nasabah kaya seperti pengusaha dan entertain. Hal ini merupakan langkah perseroan dalam rangka menangkap tren minat nasabah ke produk asuransi tradisional.
"Produk tradisional ini yang masih sustain. Ini dari 2 tahun terakhir lah. Kita lihat itu memang angka produk tradisional demandnya itu lebih tinggi," kata Roy dalam kesempatan yang sama.
Hal ini sejalan dengan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dimana pendapatan premi asuransi jiwa tradisional tumbuh lebih tinggi dari pada unitlink. Dimana pendapatan premi tradisional tercatat sebesar Rp55,2 triliun per Juni 2025.
Angka premi tradisional ini naik 6,5% secara tahunan. Sementara itu, premi asuransi unitlink tercatat sebesar Rp32,4 triliun, atau terkontraksi 11,7% secara year on year.
“Berdasarkan data AAJI ini, untuk harapan ada kolaborasi ini karena berbicara produk gimana memasarkan dengan partnership yang erat bisa menjangkau nasabah sebanyak mungkin bisa mendapatkan kepercayaan dan premi kecil hanya 2-3 juta jadi harapan semakin dia memiliki outlet edukasi financial bisa kena dan memberikan trust atau kepercayaan kepada seluruh nasabah,”harap Nadia Mulya.
Nadia mengungkapkan pengalamannya ketika berinteraksi dengan masyarakat pesisir. Nadia menyoroti bahwa banyak keluarga di daerah pesisir masih berjuang dengan literasi dasar, sehingga asuransi sering dianggap kebutuhan tersier.
"Ya kalau-kalau aku ya memang aku sangat setuju ya karena kalau aku mungkin agak sedikit beda nih jalurnya.Aku banyak berurusan dengan lingkungan dan dengan masyarakat yang di pesisir dan sebagainya dan saya juga kadang-kadang suka terlihat gitu ya namanya financial literacy itu seperti suatu hal yang sangat jauh dengan mereka," ujar Nadia Mulya di kawasan Rasuna Said Jakarta Selatan, kemarin.
Wanita kelahiran Jakarta, 19 Februari 1980 ini menambahkan pengalamannya bersama anak-anak nelayan yang masih kesulitan dalam hal keuangan dasar. Pernyataan ini seolah ingin menggambarkan adanya kesenjangan pemahaman, di mana asuransi belum menjadi prioritas bagi sebagian besar masyarakat.
"Aku bahkan juga sempat ketemu dengan anak-anak nelayan ketika ditanya mengenai menabung, ditanya mengenai berhitung aja mereka masih kesulitan gitu. Jadi saya bisa paham ya, bagaimana kita negara berkembang melihat hal ini sebagai kebutuhan yang masih lini ketiga lah sesudah kebutuhan yang paling utamanya," ungkap Nadia.
Meski demikian, Nadia menekankan bahwa asuransi sangat relevan jika dikaitkan dengan tanggung jawab keluarga. Baginya, proteksi bukan sekadar melindungi aset, tetapi juga meninggalkan warisan ketenangan bagi generasi berikutnya.
"Tapi menurut saya sudah merupakan tanggung jawab dari terutama ya, dalam konteks keluarga tadi yang Pak Anwar katakan dan sangat relevan dengan kita semua. Sebagai kepala keluarga, memang sangat penting kita untuk bisa mewariskan that peace of mind, ke keluarga itu, kepada anak-anak kita. Makanya klop banget nih, pembahasannya mengenai keluarga, mengenai legacy, mengenai proteksi, mengenai peace of mind," sambungnya.
Nadia Mulya menekankan bahwa kebutuhan akan asuransi seharusnya tumbuh seiring dengan peningkatan pendapatan dan pengalaman hidup. Dengan kata lain, semakin tinggi kompleksitas kehidupan, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki perlindungan finansial.
"Jadi ya kita kembalikan dulu ya kepada setiap orang. Seharusnya dengan semakin meningkatnya bukan hanya saja dari sisi pendapatan, tapi mungkin exposure mereka terhadap kehidupan, mereka semakin membutuhkan proteksi," ujarnya.
Lebih lanjut, Nadia menyoroti beragamnya pilihan produk asuransi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pandangan ini menegaskan bahwa asuransi bukanlah beban, melainkan instrumen fleksibel yang dapat diatur sesuai kondisi ekonomi dan gaya hidup.
Baginya proteksi itu membuatnya yakin juga ada banyak sekali ya, ada banyak ukurannya, banyak nominalnya, banyak bentuknya, banyak coverage-nya yang bisa disesuaikan dengan setiap kebutuhan kita.
Jadi menurut aku, itu sudah merupakan suatu kebutuhan. Sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain yang terutama berkaitan dengan orang-orang yang hidup di kota besar. Tinggal dikonsultasikan saja sih mana yang paling tepat untuk kita," kata perempuan yang memulai karir dunia hiburan melalui dunia modeling ini.
“Kalau aku pemain yang sangat prudent ketimbang berspekulasi melihat karakter dan kebutuhan kita apalagi aku saat ini untuk pendidikan anak sekolah,”sambungnya.
Nadia Mulia pun tak menampik bahwa ikut asuransi ini merupakan bagian dari investasi apalagi dunia hiburan cost itu selalu ada dan kerja sebagai entertain atau pengusaha itu walaupun tidak pasti tapi lalo dapat kontrak besar bisa invest karena gak tau akan terjadi kedepannya.
Sementara itu, Great Eastern Life Indonesia melalui produk GREAT Legacy Assurance pada bulan Maret lalu. Dalam lima bulan sejak diluncurkan, produk ini mencatat perolehan Premi sebesar Rp14 miliar dan nilai Uang Pertanggungan mencapai lebih dari Rp173 miliar.
Direktur Pemasaran Great Eastern Life Indonesia Roy Hendrata Gozalie mengatakan, pihaknya menyasar segmen afluent atau nasabah kaya seperti pengusaha dan entertain. Hal ini merupakan langkah perseroan dalam rangka menangkap tren minat nasabah ke produk asuransi tradisional.
"Produk tradisional ini yang masih sustain. Ini dari 2 tahun terakhir lah. Kita lihat itu memang angka produk tradisional demandnya itu lebih tinggi," kata Roy dalam kesempatan yang sama.
Hal ini sejalan dengan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dimana pendapatan premi asuransi jiwa tradisional tumbuh lebih tinggi dari pada unitlink. Dimana pendapatan premi tradisional tercatat sebesar Rp55,2 triliun per Juni 2025.
Angka premi tradisional ini naik 6,5% secara tahunan. Sementara itu, premi asuransi unitlink tercatat sebesar Rp32,4 triliun, atau terkontraksi 11,7% secara year on year.
“Berdasarkan data AAJI ini, untuk harapan ada kolaborasi ini karena berbicara produk gimana memasarkan dengan partnership yang erat bisa menjangkau nasabah sebanyak mungkin bisa mendapatkan kepercayaan dan premi kecil hanya 2-3 juta jadi harapan semakin dia memiliki outlet edukasi financial bisa kena dan memberikan trust atau kepercayaan kepada seluruh nasabah,”harap Nadia Mulya.
(aik)
Lihat Juga :