Studi: Virus Corona Baru Mampu Menyerang Otak
Selasa, 15 September 2020 - 13:07 WIB
loading...
Berdasarkan studi, sakit kepala, kebingungan, dan delirium yang dialami oleh beberapa pasien COVID-19 bisa terjadi akibat virus corona yang langsung menyerang otak. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Sakit kepala, kebingungan, dan delirium yang dialami oleh beberapa pasien COVID-19 bisa terjadi akibat virus corona yang langsung menyerang otak. Hal ini berdasarkan penelitian Universitas California, San Francisco. Penelitian ini masih pendahuluan, tetapi menawarkan beberapa bukti baru untuk mendukung teori yang sebelumnya sebagian besar belum teruji.
Menurut makalah yang dipimpin oleh ahli imunologi Yale Akiko Iwasaki, virus tersebut dapat bereplikasi di dalam otak, dan keberadaannya membuat sel-sel otak di sekitarnya kekurangan oksigen, meskipun prevalensinya belum jelas. S Andrew Josephson, ketua departemen neurologi di Universitas California, San Francisco, memuji teknik yang digunakan dalam penelitian tersebut.
"Memahami ada atau tidaknya keterlibatan virus langsung di otak sangat penting," kata Josephson dilansir Times Now News. (Baca juga: Aktor Ade Firman Hakim Meninggal Dunia, Diduga karena Covid-19 )
Tidak mengherankan jika SARS-CoV-2 mampu menembus sawar darah otak, struktur yang mengelilingi pembuluh darah otak dan mencoba memblokir zat asing. Virus Zika, misalnya, juga melakukan ini dan menyebabkan kerusakan signifikan pada otak janin.
Tetapi para dokter percaya sampai sekarang bahwa dampak neurologis yang terlihat pada sekitar setengah dari semua pasien malah bisa menjadi hasil dari respon kekebalan abnormal yang dikenal sebagai badai sitokin yang menyebabkan radang otak, yang mana virus menyerang secara langsung.
Iwasaki dan koleganya memutuskan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan tiga cara yakni dengan menginfeksi otak mini yang dikembangkan di laboratorium yang dikenal sebagai organoid otak, dengan menginfeksi tikus, dan dengan memeriksa jaringan otak pasien COVID-19 yang telah meninggal.
Di organoid otak, tim menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 mampu menginfeksi neuron dan kemudian membajak mesin sel neuron untuk membuat salinan dirinya sendiri. Sel yang terinfeksi pada gilirannya mendorong kematian sel di sekitarnya dengan mencekik pasokan oksigennya.
Menurut makalah yang dipimpin oleh ahli imunologi Yale Akiko Iwasaki, virus tersebut dapat bereplikasi di dalam otak, dan keberadaannya membuat sel-sel otak di sekitarnya kekurangan oksigen, meskipun prevalensinya belum jelas. S Andrew Josephson, ketua departemen neurologi di Universitas California, San Francisco, memuji teknik yang digunakan dalam penelitian tersebut.
"Memahami ada atau tidaknya keterlibatan virus langsung di otak sangat penting," kata Josephson dilansir Times Now News. (Baca juga: Aktor Ade Firman Hakim Meninggal Dunia, Diduga karena Covid-19 )
Tidak mengherankan jika SARS-CoV-2 mampu menembus sawar darah otak, struktur yang mengelilingi pembuluh darah otak dan mencoba memblokir zat asing. Virus Zika, misalnya, juga melakukan ini dan menyebabkan kerusakan signifikan pada otak janin.
Tetapi para dokter percaya sampai sekarang bahwa dampak neurologis yang terlihat pada sekitar setengah dari semua pasien malah bisa menjadi hasil dari respon kekebalan abnormal yang dikenal sebagai badai sitokin yang menyebabkan radang otak, yang mana virus menyerang secara langsung.
Iwasaki dan koleganya memutuskan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan tiga cara yakni dengan menginfeksi otak mini yang dikembangkan di laboratorium yang dikenal sebagai organoid otak, dengan menginfeksi tikus, dan dengan memeriksa jaringan otak pasien COVID-19 yang telah meninggal.
Di organoid otak, tim menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 mampu menginfeksi neuron dan kemudian membajak mesin sel neuron untuk membuat salinan dirinya sendiri. Sel yang terinfeksi pada gilirannya mendorong kematian sel di sekitarnya dengan mencekik pasokan oksigennya.
Lihat Juga :