IKEA Indonesia dan Waste4Change Setuju Kurangi Limbah Pangan

loading...
IKEA Indonesia dan Waste4Change Setuju Kurangi Limbah Pangan
Ikea mendukung bisnis ramah lingkungan. foto/dok ist
JAKARTA - Permasalahan sampah makanan sudah menjadi isu global yang patut diperhatikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya Indonesia. Sebagai negara penghasil limbah makanan terbesar kedua di dunia menurut Economist Intelligence Unit tahun 2018, dengan rata-rata limbah tiap orang sekitar 300 kg limbah pangan setiap tahunnya, sudah seharusnya masyarakat Indonesia, khususnya pelaku bisnis kuliner mencari solusi untuk dapat mengatasi masalah ini.

Sekitar 64 ton limbah di tempat pembuangan akhir, 50% adalah sampah organic termasuk limbah pangan, yang jika dibiarkan mengendap akan memghasilkan gas metana yang berbahaya bagi ozon dan memicu pemanasan global serta perubahan iklim secara cepat.

Baca juga :IKEA Rilis Masker untuk Bantu Cegah Sebaran COVID-19

Menanggapi hal tersebut, perusahaan perabot asal Swedia, IKEA melalui bisnis kuliner IKEA Food, berkomitmen untuk mengurangi limbah makanan melalui inisiatif Food is Precious.

“Menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah makanan sudah menjadi tanggung jawab IKEA yang juga memiliki bisnis kuliner. Kami percaya bahwa semua individu maupun organisasi yang bergerak dalam rantai pasokan makanan (food chain) memiliki peran penting untuk mengurangi limbah pangan,” IKEA Food Commercial Manager, Ririh Dibyono dalam acara virtual bertajuk Pengelolaan Food Waste Berkelanjutan untuk Skala Industri, beberapa waktu lalu.

Gagasan ini dimulai dari pencegahan limbah makanan dari dapur IKEA Food melalui pendekatan Track, Monitor, dan Reduce setiap harinya. Optimalisasi operasional dapur dilakukan demi terhindar dari bahan makanan yang tidak terpakai dan berakhir dibuang. Selain itu, Ikea menggunakan sistem timbangan pintar yang dapat mengukur dan merekam limbah pangan, Waste Watcher yang terhubung dengan komputer dan digunakan oleh setiap coworker IKEA untuk mengidentifikasi alasan dan melaporkan setiap makanan yang tersisa.



Baca juga :Warung Sedekah Makanan-Sembako di Pinggir Jalan Diserbu Warga

“Data yang dikumpulkan co-worker kami kemudian dianalisa untuk menemukan cara terbaik mengurangi limbah yang dihasilkan. Dengan membiasakan co-worker mencatat limbah yang dihasilkan, terbukti dapat meningkatkan kepedulian limbah pangan sehingga mereka turut terinspirasi mengurangi limbah pangan di rumah masing-masing,” ujar Ririh.

Selain upaya pencegahan, limbah yang sudah terlanjur dihasilkan akan didaur ulang untuk menghindari limbah makanan agar tidak sampai di TPA dan menambah tumpukan sampah. IKEA menggandeng perusahaan pengelolaan sampah ramah lingkungan, Waste4Change dalam program Zero Waste to Landfill.

Kerjasama ini merupakan bagian dari inisiatif Food is Precious untuk mencegah tumpukan limbah makanan yang dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Limbah makanan yang dihasilkan dari dapur dengan mengolah kembali menjadi sumber energi lain seperti kompos dan pengembang biak larva lalat Black Soldier Flies (BSF), yang berfungsi untuk mengurangi limbah organik.




“Pertama-tama, sampah dipilah menjadi beberapa kategori seperti anorganik, kertas, organic, dan residu. Sampah organik akan melalui proses composting selama 2-3 bulan dengan perbandingan sampah dapur dan sampah taman 1:2. Kemudian, sampah yang telah melewati proses itu telah berubah bentuk menjadi tektur kompos pada umumnya bau sampah pun sudah mulai menghilang, baru setelah itu diayak untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus dan siap dipacking dan didistribusikan kepada partner dan dijual ke masyarakat,” ujar Organic Coordinator Waste4Change, Khairunnisa Humaam.

Melalui program Food is Precious, setelah berhasil menerapkan pengelolaan limbah makanan di internal, IKEA Indonesia juga ingin mengajak pelanggan untuk turut serta melakukan hal serupa. Salah satu upayanya adalah meningkatkan kesadaran akan isu food waste di Indonesia kepada pelanggan melalui edukasi akan pentingnya isu food waste dapat dimulai sejak dini.

IKEA Indonesia bersama dengan Kedutaan Swedia di Indonesia dan Greeneration Foundation akan meluncurkan buku anak-anak tentang limbah makanan di tahun 2021. Melalui kegiatan ini, IKEA mengajak orang tua dan guru untuk mengajarkan anak-anak tentang siklus makanan dan cara memanfaatkan makanan menjadi kompos. (mg1)
(sal)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top