Apa yang Perlu Dipersiapkan saat Anak Kembali ke Sekolah?
Jum'at, 04 Desember 2020 - 23:55 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data Worldometers, hingga Jumat (4/12) sore, total kasus Covid-19 di dunia telah mencapai 65.793.975 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 563.680 kasus terdapat di Indonesia. Tren kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan, namun pembukaan sekolah secara tatap muka sudah diberi izin oleh pemerintah.
Dokter Ajeng mengungkapkan perlunya banyak pertimbangan dan persiapan matang sebelum memutuskan sekolah tatap muka. "Memang banyak sekali pro dan kontra yang bermunculan mengenai isu sekolah tatap muka pada 2021," ujarnya.
"Di satu sisi, pembelajaran jarak jauh sudah mulai membuat anak-anak jenuh serta bisa dikatakan hanya efektif pada 15 menit pertama pembelajaran dimulai, selebihnya anak-anak akan terdistraksi dengan kegiatan lainnya. Namun, di sisi lain, orang tua merasa aman sekolah di rumah untuk menghindari virus corona karena penyebaran virus ini tidak main-main dan sangat mengkhawatirkan," paparnya.
Berdasarkan data terkini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi anak-anak terinfeksi virus corona sebesar 11,3 persen. Selain itu, jurnal dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan risiko anak terkena virus corona lebih rendah 20 kali dari kelompok usia tua. "Walaupun risiko anak terkena virus corona lebih rendah, bukan berarti kewaspadaan terhadap hal tersebut hilang. Karena anak-anak tetap memiliki risiko terinfeksi dan menginfeksi," kata dr. Ajeng.
Lebih jauh, dr. Ajeng mengutarakan, banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai sekolah tatap muka. Pertama, komitmen seluruh pihak untuk memutus rantai penularan. "Pemerintah, khususnya pemerintah daerah harus menyiapkan aturan protokol kesehatan yang ketat untuk sekolah dengan menyiapkan regulasi bahwa tingkat pendidikan sekolah apa yang akan dibuka. Jika tingkat pendidikan SMA hingga Universitas mungkin bisa diterapkan aturan dengan baik. Justru yang mengkhawatirkan adalah jika dibukanya tatap muka untuk tingkat SD dan SMP," jelasnya.
Dokter Ajeng mengungkapkan perlunya banyak pertimbangan dan persiapan matang sebelum memutuskan sekolah tatap muka. "Memang banyak sekali pro dan kontra yang bermunculan mengenai isu sekolah tatap muka pada 2021," ujarnya.
"Di satu sisi, pembelajaran jarak jauh sudah mulai membuat anak-anak jenuh serta bisa dikatakan hanya efektif pada 15 menit pertama pembelajaran dimulai, selebihnya anak-anak akan terdistraksi dengan kegiatan lainnya. Namun, di sisi lain, orang tua merasa aman sekolah di rumah untuk menghindari virus corona karena penyebaran virus ini tidak main-main dan sangat mengkhawatirkan," paparnya.
Berdasarkan data terkini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi anak-anak terinfeksi virus corona sebesar 11,3 persen. Selain itu, jurnal dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan risiko anak terkena virus corona lebih rendah 20 kali dari kelompok usia tua. "Walaupun risiko anak terkena virus corona lebih rendah, bukan berarti kewaspadaan terhadap hal tersebut hilang. Karena anak-anak tetap memiliki risiko terinfeksi dan menginfeksi," kata dr. Ajeng.
Lebih jauh, dr. Ajeng mengutarakan, banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai sekolah tatap muka. Pertama, komitmen seluruh pihak untuk memutus rantai penularan. "Pemerintah, khususnya pemerintah daerah harus menyiapkan aturan protokol kesehatan yang ketat untuk sekolah dengan menyiapkan regulasi bahwa tingkat pendidikan sekolah apa yang akan dibuka. Jika tingkat pendidikan SMA hingga Universitas mungkin bisa diterapkan aturan dengan baik. Justru yang mengkhawatirkan adalah jika dibukanya tatap muka untuk tingkat SD dan SMP," jelasnya.
Lihat Juga :