Review Film Wonder Woman 1984

loading...
Review Film Wonder Woman 1984
Wonder Woman 1984 memiliki alur yang lambat di awal film sehingga membuat sedikit membosankan. Namun, di setengah akhir, film ini menyajikan aksi yang seru. (lrmonline)
Gal Gadot kembali hadir ke layar lebar sebagai Putri Diana alias Wonder Woman di film terbarunya, Wonder Woman 1984 atau disingkat WW84. Dirilis di penghujung 2020, film ini diharap bisa menjadi salah satu penghibur bagi banyak orang di tengah pandemi Covid 19 dengan aksi-aksinya yang seru.

Ber-setting pada 1984—sesuai judulnya—film ini mengisahkan tentang Diana (Gal Gadot) yang bekerja sebagai arkeolog di Smithsonian, Washington DC. Museum itu kemudian diminta FBI untuk mengidentifikasi sebuah batu yang didapatkan dari sebuah toko perhiasan di mal yang juga berfungsi sebagai tempat penampungan barang-barang antik selundupan. Ahli gemologi, Barbara Minerva (Kristen Wiig), diminta untuk mencari tahu apa batu tersebut.

Barbara adalah sosok wanita cerdas dengan karakter canggung. Inilah yang membuatnya tidak percaya diri, terutama pada penampilannya. Pertemuannya dengan Diana di museum itu membuatnya terkesan. Berdua, mereka pun mempelajari apa batu tersebut dan pada akhirnya menemukan bahwa batu itu adalah batu jimat yang mampu mengabulkan permintaan. Dua wanita itu pun secara diam-diam membuat permintaan.

Di sisi lain, batu itu diincar Maxwell Lord (Pedro Pascal), seorang pengusaha minyak yang bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan. Max adalah orang yang membeli batu itu entah dari mana asalnya. Namun, sebelum batu itu jatuh ke tangannya, tempat penampungan artefak ilegal sudah lebih dulu digeledah aparat berwenang dan batu itu pun berakhir di Smithsonian. Max pun melalukan berbagai cara untuk mendapatkan batu itu. Begitu batu itu dia dapatkan, kekacauan pun terjadi.



Sutradara Patty Jenkins yang kembali dipercaya untuk menukangi Wonder Woman menyajikan film ini dengan sentuhan emosi dan aksi yang cukup menarik. Hanya, pada setengah bagian film ini terasa panjang karena building cerita yang terlalu lama. Ada rasa apa sih yang sebenarnya mau diceritakan di film ini ketika menit-menit awal berjalan. Sejenak, ada rasa bosan menghampiri karena alurnya cukup lambat. Patty sepertinya ingin memberikan banyak detil di awal sehingga pada bagian akhirnya, semuanya bisa terlihat gamblang dan tidak ada yang terlewat. Strategi ini sebenarnya cukup berhasil karena jahitan ceritanya memang halus. Sayang, karena building ceritanya agak datar, jadi kurang menarik.

Selain itu, kekacauan di film ini disebabkan oleh sebongkah batu keramat. Yup, batu. Entah ada apa dengan genre superhero yang seolah senang sekali dengan batu. Jika Anda merasa sudah cukup dengan cerita tentang batu di film Marvel , maka Anda bakal kembali mendapatkannya di Wonder Woman 1984 dari DC . Batu di film ini juga mengandung keajaiban dan kekuatan yang tentu berbeda dengan batu di Marvel. Sisi magis inilah yang dieksplorasi di film ini. Meski di beberapa bagian, film ini tidak terlalu tuntas memberikan bahasannya. Bahkan, misterinya pun tetap menjadi misteri.

Bagian setengah ke akhir ketika menjelang masa-masa klimaks baru menarik. Aksi-aksi seru pun ditampilkan di bagian ini. Diana dengan bantuan Steve menghadapi para musuhnya dengan bersenjatakan laso andalannya. Jadi, bagian ini seolah menjadi pengobat rasa bosan yang sempat hadir di awal-awal film ini bergulir. Adegan-adegan laga di film ini banyak ditampilkan dalam bentuk slow motion sehingga memberikan sensasi tersendiri saat menontonnya.



Film ini juga mengungkapkan betapa sulitnya untuk move on dari orang yang disayangi. Setelah kematian Steve Trevor (Chris Pine) di film Wonder Woman (2017), Diana ternyata belum bisa membuka hatinya untuk pria lain. Dia masih sulit melupakan bayang-bayang Steve dari kehidupannya. Berpenampilan menarik dan banyak pria yang mendekatinya, hati Diana sudah tertutup untuk Steve seorang. Meskipun pria yang dipuja sudah pergi untuk selamanya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top