Penderita Vitiligo Tak Harus Rendah Diri, Mereka Juga Bisa Berprestasi
Minggu, 27 Juni 2021 - 16:05 WIB
loading...
Winnie Harlow. (REUTERS/Eduardo Munoz)
A
A
A
JAKARTA - Vitiligo adalah kondisi kulit jangka panjang yang ditandai dengan bercak-bercak pada kulit dimana kulit kehilangan pigmennya. Seringkali bercak mulai muncul di area kulit yang terpapar sinar matahari. dr. Sondang MHA Pandjaitan Sirait, SpKK(K), MPd.Ked, FINSDV, FAADV (Ketua Dermatopatologi, KSM Dept Dermatologi dan Venerologi FKUI RSCM) mengemukakan bahwa penyebab pasti vitiligo tidak diketahui. Hal ini diyakini karena kerentanan genetik yang dipicu oleh faktor lingkungan sehingga terjadi penyakit autoimun yang menyebabkan penghancuran sel pigmen kulit.
Saat ini, tercatat 0,1-2% prevalensi vitiligo atau setara dengan sekitar 5 juta penduduk yang mengalaminya bahkan lebih karena belum ada data pasti yang menggambarkan keadaannya di Indonesia. WHO menyebutkan Indonesia merupakan daerah radiasi UV (8-13)yang ekstrim shingga memerlukan kewaspadaan dari penduduknya.
Untuk melindungi dari radiasi ekstrim, disarankan untuk menggunakan tabir surya(Sunscreen) yang dapat menghindarikan dari efek negatif seperti terbakar sinar matahari (sunburn) ,kanker kulit(skin cancer) ataupunpenuaan (aging) termasuk terjadinya Vitiligo.
“Faktor risiko termasuk riwayat keluarga atau penyakit autoimun lainnya, seperti hipertiroidisme, alopecia areata, dan anemia pernisiosa. Vitiligo sendiri tidak menular akan tetapi memang memerlukan terapi dalam jangka waktu yang lama dan komplek. Dampak Vitiligo diantaranya menyebabkan stres psikologis dan mereka yang terkena terkadang mendapat stigma tertentu“ ujar dr. Sondang.
Sebagai bentuk dari dukungan dan kepedulian terhadap pasien Vitiligo, PT. Regenesis Indonesia menghimpun sebuah gerakan untuk membantu para sahabat Vitiligo. Gerakan Self-Love Movement diluncurkan pada hari ini tepat pada Bulan Peringatan Hari Vitiligo Dunia.
Saat ini, tercatat 0,1-2% prevalensi vitiligo atau setara dengan sekitar 5 juta penduduk yang mengalaminya bahkan lebih karena belum ada data pasti yang menggambarkan keadaannya di Indonesia. WHO menyebutkan Indonesia merupakan daerah radiasi UV (8-13)yang ekstrim shingga memerlukan kewaspadaan dari penduduknya.
Untuk melindungi dari radiasi ekstrim, disarankan untuk menggunakan tabir surya(Sunscreen) yang dapat menghindarikan dari efek negatif seperti terbakar sinar matahari (sunburn) ,kanker kulit(skin cancer) ataupunpenuaan (aging) termasuk terjadinya Vitiligo.
“Faktor risiko termasuk riwayat keluarga atau penyakit autoimun lainnya, seperti hipertiroidisme, alopecia areata, dan anemia pernisiosa. Vitiligo sendiri tidak menular akan tetapi memang memerlukan terapi dalam jangka waktu yang lama dan komplek. Dampak Vitiligo diantaranya menyebabkan stres psikologis dan mereka yang terkena terkadang mendapat stigma tertentu“ ujar dr. Sondang.
Sebagai bentuk dari dukungan dan kepedulian terhadap pasien Vitiligo, PT. Regenesis Indonesia menghimpun sebuah gerakan untuk membantu para sahabat Vitiligo. Gerakan Self-Love Movement diluncurkan pada hari ini tepat pada Bulan Peringatan Hari Vitiligo Dunia.
Lihat Juga :