Mengenal Indra Rudiansyah, Mahasiswa Oxford Asal Indonesia yang Ikut Kembangkan Vaksin AstraZaneca
Senin, 19 Juli 2021 - 12:02 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum disebarluaskan masyarakat dunia, uji coba vaksin Covid-19 dilakukan di Pusat Vaksin Oxford dilaksanakan Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group. Tim yang dipimpin oleh Prof. Sarah Gilbert, Prof. Andrew Pollard, Prof. Teresa Lambe, Dr Sandy Douglas, Prof. Catherine Green dan Prof. Adrian Hill mengembangkan vaksin ini sejak 20 Januari lalu.
Menurut anak ke dua dari tiga bersaudara itu, penelitian utama untuk thesisnya adalah vaksin malaria, namun keikutsertaannya dalam tim ini merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatnya banyak nyawa orang.
Dalam wawancaranya, ia kemudian ikut meneliti uji klinis dengan menguji antibody response dari para volunteer yang sudah divaksinasi.
“Tentunya saya sangat bangga akan hal ini karena dapat berkontribusi secara nyata untuk menghadapi pandemi ini,” ujar Indra sembari mengatakan uji klinisnya sebenarnya merupakan vaksin malaria.
Baca Juga : Benarkah Konsumsi Vitamin D Berlebih Sebabkan Gangguan Ginjal dan Imunitas? Ini Faktanya
Termasuk ketika kampusnya diliburkan karena pandemi Covid-19 awal tahun ini, beberapa kolega yang bekerja untuk mengembangkan vaksin untuk emerging pathogen itu mulai mendesain vaksin ini. Kemudian kita outbreak mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus di tutup kecuali untuk bidang yang terkait dengan covid 19/sars cov 2.
Pada saat yang sama project leader menawarkan bagi siapa saja yang bekerja dengan non-covid jika ingin bergabung akan diperbolehkan. Dari situ Indra bergabung dengan tim untuk membantu uji klinis.
Ia pun mengakui tidak ada duka dalam keterlibatannya di tim. Bahkan dirinya mengakui tertantangan dalam bekerja dengan tim ini. Kini nama Indra menjadi salah satu vaksin AstraZeneca yang kini tengah disuntikan tahap pertama di Indonesia. Vaksin ini pun sangat murah setelah Sarah Gilbert mengratiskan hak patennya.
Menurut anak ke dua dari tiga bersaudara itu, penelitian utama untuk thesisnya adalah vaksin malaria, namun keikutsertaannya dalam tim ini merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatnya banyak nyawa orang.
Dalam wawancaranya, ia kemudian ikut meneliti uji klinis dengan menguji antibody response dari para volunteer yang sudah divaksinasi.
“Tentunya saya sangat bangga akan hal ini karena dapat berkontribusi secara nyata untuk menghadapi pandemi ini,” ujar Indra sembari mengatakan uji klinisnya sebenarnya merupakan vaksin malaria.
Baca Juga : Benarkah Konsumsi Vitamin D Berlebih Sebabkan Gangguan Ginjal dan Imunitas? Ini Faktanya
Termasuk ketika kampusnya diliburkan karena pandemi Covid-19 awal tahun ini, beberapa kolega yang bekerja untuk mengembangkan vaksin untuk emerging pathogen itu mulai mendesain vaksin ini. Kemudian kita outbreak mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus di tutup kecuali untuk bidang yang terkait dengan covid 19/sars cov 2.
Pada saat yang sama project leader menawarkan bagi siapa saja yang bekerja dengan non-covid jika ingin bergabung akan diperbolehkan. Dari situ Indra bergabung dengan tim untuk membantu uji klinis.
Ia pun mengakui tidak ada duka dalam keterlibatannya di tim. Bahkan dirinya mengakui tertantangan dalam bekerja dengan tim ini. Kini nama Indra menjadi salah satu vaksin AstraZeneca yang kini tengah disuntikan tahap pertama di Indonesia. Vaksin ini pun sangat murah setelah Sarah Gilbert mengratiskan hak patennya.
(wur)
Lihat Juga :