250 Pasien Meninggal karena Varian Omicron Dalam Sehari, Menkes Budi: Belum Divaksinasi dan Komorbid
Minggu, 27 Februari 2022 - 19:21 WIB
loading...
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sebanyak 250 orang meninggal dalam setiap hari karena varian Omicron. Foto/Tangkapan layar
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sebanyak 250 orang meninggal dalam setiap hari karena varian Omicron. Hal tersebut disampaikan saat live Keterangan Pers Menteri terkait Hasil Rapat Terbatas PPKM, Minggu (27/2/2022).
"Yang meninggal di Rumah Sakit 250 orang perharinya dibandingkan kasus sebelumnya (delta) sebanyak 2.000 orang perharinya," ujar Menkes Budi, Minggu (27/2/2022).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa jumlah total orang meninggal karena Omicron kurang lebih 15 persen dari varian Delta. Mereka meninggal karena belum divaksinasi dan juga ada yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta.
Dia menerangkan bahwa jumlahnya paling banyak pasien meninggal karena belum vaksin atau divaksinasi lengkap (dosis 1 dan 2). "Mereka yang meninggal karena belum divaksinasi dan memiliki komorbid," jelas Menkes Budi.
Baca Juga: Puncak Omicron 55 Ribu Kasus Sudah Terjadi, Menkes Budi: Kematian hingga 500 Tak Akan Terjadi
">"Yang meninggal di Rumah Sakit 250 orang perharinya dibandingkan kasus sebelumnya (delta) sebanyak 2.000 orang perharinya," ujar Menkes Budi, Minggu (27/2/2022).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa jumlah total orang meninggal karena Omicron kurang lebih 15 persen dari varian Delta. Mereka meninggal karena belum divaksinasi dan juga ada yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta.
Dia menerangkan bahwa jumlahnya paling banyak pasien meninggal karena belum vaksin atau divaksinasi lengkap (dosis 1 dan 2). "Mereka yang meninggal karena belum divaksinasi dan memiliki komorbid," jelas Menkes Budi.
Baca Juga: Puncak Omicron 55 Ribu Kasus Sudah Terjadi, Menkes Budi: Kematian hingga 500 Tak Akan Terjadi
Sedangkan untuk keterisian rumah sakit, Menkes mengatakan bahwa kapasitas saat ini 40-50 persen. Dia berharap dapat terkendali, sehingga tidak seperti pada kasus sebelumnya.