Bukan Air Galon, Kepala BKKBN: Pangan Beralkohol Berpotensi Sebabkan Infertilitas
Kamis, 23 Juni 2022 - 08:09 WIB
loading...
A
A
A
Hasto mengatakan orang mengalami gangguan fertilitas di Indonesia itu angkanya hanya 5-15% saja. Menurutnya, infertilitas di Indonesia itu masih banyak disebabkan karena infeksi, misalnya karena banyak keputihan yang bisa menyebabkan infeksi saluran kelamin. “Infeksi ini kemudian menyebabkan saluran telurnya menjadi buntu,” tukasnya.
Hasto juga mengungkapkan laki-laki perokok juga berpengaruh terhadap kesuburuan. Termasuk juga karena nikahnya terlalu tua, itu sangat related dengan fertilitas. “Ketika usia sudah 38 tahun, orang itu akan mengalami penurunan yang panjang di fertilitasnya secara alami,” katanya.
BKKBN berkomitmen untuk menurunkan angka total fertility rate (TFR) dari 2,46 sebelum pandemi menjadi 2,24 setelah dua tahun masa pandemi. TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia subur/reproduksinya.
Menurut Hasto, BKKBN telah berhasil menurunkan angka kelahiran secara tajam dari 5,6 menjadi 2,2 kelahiran per perempuan selama 1970 hingga tahun 2000. “Penurunan angka kelahiran ini memperlambat laju pertumbuhan penduduk darin berpengaruh terhadap kualitas pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur sehingga meningkatkan standar hidup masyarakat,” ungkapnya.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan BKKBN untuk bisa menurunkan angka kelahiran itu adalah dengan memberikan layanan secara masif sampai di tingkat bidan. Dalam hal ini, obat BKKBN itu digratiskan untuk semua masyarakat dan tidak perlu harus menjadi anggota BPJS. “Tapi, semua yang memang perlu dilayani diberikan secara gratis baik obat KB, susuk, suntik, operasi steril untuk baik vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk wanita,” ucapnya.
Hasto juga mengungkapkan laki-laki perokok juga berpengaruh terhadap kesuburuan. Termasuk juga karena nikahnya terlalu tua, itu sangat related dengan fertilitas. “Ketika usia sudah 38 tahun, orang itu akan mengalami penurunan yang panjang di fertilitasnya secara alami,” katanya.
BKKBN berkomitmen untuk menurunkan angka total fertility rate (TFR) dari 2,46 sebelum pandemi menjadi 2,24 setelah dua tahun masa pandemi. TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia subur/reproduksinya.
Menurut Hasto, BKKBN telah berhasil menurunkan angka kelahiran secara tajam dari 5,6 menjadi 2,2 kelahiran per perempuan selama 1970 hingga tahun 2000. “Penurunan angka kelahiran ini memperlambat laju pertumbuhan penduduk darin berpengaruh terhadap kualitas pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur sehingga meningkatkan standar hidup masyarakat,” ungkapnya.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan BKKBN untuk bisa menurunkan angka kelahiran itu adalah dengan memberikan layanan secara masif sampai di tingkat bidan. Dalam hal ini, obat BKKBN itu digratiskan untuk semua masyarakat dan tidak perlu harus menjadi anggota BPJS. “Tapi, semua yang memang perlu dilayani diberikan secara gratis baik obat KB, susuk, suntik, operasi steril untuk baik vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk wanita,” ucapnya.
Lihat Juga :