Investasi Jangka Panjang, Tas Mewah Laris Manis saat Pandemi
Jum'at, 26 Juni 2020 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Di Singapura, penjualan ritel untuk kategori pakaian jadi dan alas kaki anjlok 85,3 persen pada April 2020 dibandingkan periode waktu yang sama tahun lalu. “Tentu saja, dengan banyak gerai ritel di seluruh dunia dipaksa untuk menutup pintu mereka, masuk akal bahwa pengecer online akan melihat peningkatan penjualan karena konsumen mengubah pola pembelian mereka,” ujar Tuli.
Sementara itu menurut salah satu pendiri dan CFO platform penjualan kilat OnTheList, Diego Dultzin Lacoste, menuturkan, peningkatan penjualan tas mewah secara online ini terjadi di Asia khususnya di Cina dan Korea Selatan. Semua rumah mewah telah melaporkan bisnis yang cepat di dua negara tersebut.
Menurut Lacoste, pembeli asal Cina adalah kunci untuk label-label tas mewah karena menyumbang 35% dari pengeluaran mewah global pada tahun 2019. Lacoste mengharapkan pengaruh mereka pada sektor ini untuk tumbuh lebih jauh dalam beberapa tahun ke depan hingga tahun 2025. (Baca juga: Senat AS Menyetujui RUU Sanksi China Terkait Hong Kong)
“Dengan perjalanan global yang diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat normal hingga dua tahun, konsumen Cina yang biasanya melakukan dua pertiga dari pembelian mewah mereka di luar negeri sebagian besar akan berbelanja di rumah, mempercepat tren belanja online yang sudah berjalan,” ujar Lacoste.
Kenaikan penjualan ini tetap terjadi meskipun adanya kenaikan harga barang. Direktur kreatif Chanel, Virginie Viard mengatakan bahwa pihaknya menaikkan harga pada tas ikonik dan beberapa barang kulit kecil antara 5% dan 17% di seluruh dunia karena pandemi telah menaikkan biaya bahan baku tertentu. "Penyesuaian ini dilakukan sambil memastikan bahwa kami menghindari perbedaan harga yang berlebihan antar negara," kata Viard.
Sementara itu menurut salah satu pendiri dan CFO platform penjualan kilat OnTheList, Diego Dultzin Lacoste, menuturkan, peningkatan penjualan tas mewah secara online ini terjadi di Asia khususnya di Cina dan Korea Selatan. Semua rumah mewah telah melaporkan bisnis yang cepat di dua negara tersebut.
Menurut Lacoste, pembeli asal Cina adalah kunci untuk label-label tas mewah karena menyumbang 35% dari pengeluaran mewah global pada tahun 2019. Lacoste mengharapkan pengaruh mereka pada sektor ini untuk tumbuh lebih jauh dalam beberapa tahun ke depan hingga tahun 2025. (Baca juga: Senat AS Menyetujui RUU Sanksi China Terkait Hong Kong)
“Dengan perjalanan global yang diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat normal hingga dua tahun, konsumen Cina yang biasanya melakukan dua pertiga dari pembelian mewah mereka di luar negeri sebagian besar akan berbelanja di rumah, mempercepat tren belanja online yang sudah berjalan,” ujar Lacoste.
Kenaikan penjualan ini tetap terjadi meskipun adanya kenaikan harga barang. Direktur kreatif Chanel, Virginie Viard mengatakan bahwa pihaknya menaikkan harga pada tas ikonik dan beberapa barang kulit kecil antara 5% dan 17% di seluruh dunia karena pandemi telah menaikkan biaya bahan baku tertentu. "Penyesuaian ini dilakukan sambil memastikan bahwa kami menghindari perbedaan harga yang berlebihan antar negara," kata Viard.
Lihat Juga :