alexametrics

10 Alasan Utama Pasangan Menikah Putuskan Bercerai

loading...
10 Alasan Utama Pasangan Menikah Putuskan Bercerai
Setidaknya ada 10 alasan utama pasangan menikah memutuskan untuk bercerai dan masalah komunikasi muncul sebagai alasan utama mengapa sebuah pernikahan gagal. Foto/Dok. Instagram
A+ A-
JAKARTA - Laudya Cynthia Bella mengaku sudah bercerai dari sang suami, Engku Emran. Hal ini diungkapkan Bella melalui sebuah video berdurasi singkat.

Pernyataan tersebut menjawab isu keretakan rumah tangga Bella dan Emran setelah keduanya diketahui tidak lagi memajang foto bersama di media sosial Instagram.

"Berkait tentang pemberitaan saat ini soal rumah tangga saya, saya ingin menjelaskan bahwa kami berdua sudah sama-sama sepakat untuk berpisah secara baik-baik," ujar Bella seperti dikutip dari Insertlive. (Baca Juga: Stop Unggahan Bersama Suami, Bagian Usaha Bella Pertahankan Rumah Tangga)



Lebih Lanjut artis 32 tahun itu mengatakan, sudah berbagai upaya ia dan Emran lakukan untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Keduanya juga telah melalui segala proses, namun kini baik Bella dan Emran memilih untuk berpisah secara baik-baik.

"Sudah berbagai upaya yang kami lakukan dan ini adalah takdir Allah SWT. Rumah tangga kami hanya sampai di sini dan sudah segala proses kami juga lalui dan saat ini semuanya sudah selesai," kata Bella.

Sayang, pemeran Surga yang Tak Dirindukan 2 ini tidak menjelaskan alasan perceraiannya dengan Emran. Hanya, bila mengutip informasi dari laman Huffpost, perselingkuhan bukan penyebab utama perceraian.

Setidaknya ada 10 alasan utama pasangan menikah memutuskan untuk bercerai dan masalah komunikasi muncul sebagai alasan utama mengapa sebuah pernikahan gagal. Berikut ulasannya.

1. Menikah karena Alasan yang Salah
Menikah karena uang, salah satu hal yang dapat menyebabkan pernikahan berakhir dengan cepat. Banyak wanita bercerai dan mengatakan bahwa masalah yang membuat mereka berpisah ada sejak awal, tapi semua orang berharap hidup bahagia selamanya atau sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk pernikahan. Ada juga alasan karena baru saja menghabiskan uang untuk membangun rumah impian.

2. Kurangnya Identitas Individu
Hubungan codependent merupakan hal yang tidak sehat. Ketika Anda tak memiliki minat atau kesempatan untuk mengekspresikan diri di luar pasangan, ini membuat Anda menjadi pasangan bodoh. Jika Anda merasa tidak nyaman melakukan sesuatu tanpa pasangan, atau dia tidak tahu jenis musik, film, atau makanan apa yang Anda sukai, kemungkinan besar Anda akan menuju perceraian.

3. Tersesat dalam Peran
Sama seperti banyak pasangan yang melupakan teman lajang mereka, ketika Anda memiliki anak, kebanyakan orangtua segera mengabaikan atau benar-benar lupa bahwa mereka adalah pasangan. Ketika anak-anak tumbuh dan kurang membutuhkan perhatian, banyak suami dan istri mendapati bahwa mereka telah tumbuh terpisah dan tidak dapat mengingat mengapa mereka dulu menikah karena merasa tak lagi memiliki kesamaan. (Baca Juga: Bercinta Seminggu Sekali Bisa Membuat Hubungan Lebih Bahagia)

4. Tidak Punya Visi Kesuksesan Bersama
Tak memiliki visi yang sama dalam pernikahan terkadang dapat menjadi sebuah bencana. Seperti misalnya Anda seorang yang rajin menabung dan dia pemboros. Gagasan Anda tentang liburan akhir pekan adalah pondok yang nyaman di hutan, sedangkan pasangan Anda ingin pergi ke kota. Selain itu, pasangan Anda berpikir bahwa tugas memasak dan membersihkan rumah adalah bagian Anda, tetapi Anda tidak setuju hal itu.

Idealnya sebelum menikah, Anda dan pasangan mempertanyakan banyak hal dan membuat kesepakatan karena kemungkinan besar semua berubah ketika menikah.

5. Keintiman Sudah Hilang
Pada pernikahan akan ada perubahan dalam hal keintiman. Penyebabnya bisa karena masing-masing sibuk, ada kesalahpahaman, atau salah satu pihak merasa tidak enak badan. Lalu, muncul pemikiran bahwa pasangan tidak romantis atau dia tidak sensual. Pria umumnya membutuhkan penerimaan seksual untuk merasa romantis dan wanita umumnya membutuhkan romansa agar bisa menerima seks.

Selama kedua orang tersebut mendapatkan apa yang dibutuhkan, mereka rela memberikan apa yang diinginkan orang lain. Namun, ketika ada pengurangan di bagian masing-masing, itu dapat memicu penarikan kembali oleh pihak lain. Hal ini bisa menyebabkan perceraian karena pasangan mulai merasa tidak dicintai dan tak dihargai.

6. Harapan yang Tak Terpenuhi
Ketika salah satu atau kedua pihak dalam pernikahan berusaha saling memaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan demi kebahagiaan pasangan, itu dapat menyebabkan perceraian. Ketika Anda tidak bahagia menjalani suatu hubungan, tak apa-apa untuk meminta perubahan yang Anda inginkan. Tapi, jika pasangan Anda tidak bisa melakukannya, maka Anda menjadi bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda sendiri. (Baca Juga: Laudya Cynthia Bella Bercerai setelah Hampir 1 Tahun Berjuang Pertahankan Rumah Tangga)

7. Keuangan
Bukan kekurangan finansial yang menyebabkan perceraian, tapi kurangnya kompatibilitas di persoalan keuangan. Ketika dua orang bertentangan dalam hal keuangan, perceraian sering terjadi. Bayangkan, konflik pasti terjadi jika seseorang adalah penabung dan pasangannya pemboros. Yang satu terfokus pada masa depan, sementara yang lain percaya hidup untuk hari ini.

Seiring berjalannya waktu, konflik ini dapat mencapai titik tertinggi sehingga perceraian menjadi satu-satunya kesimpulan logis.

8. Tak Memiliki Hubungan Seks
Seks bisa menjaga keintiman hubungan suami istri. Pasangan yang tidak memiliki hubungan intim, baik melalui tindakan seksual maupun non-seksual, ditakdirkan untuk menjadi orang asing dalam hubungan.

9. Berbagai Prioritas dan Minat
Memiliki minat yang sama dan menjelajahinya bersama sangat penting untuk pernikahan yang berhasil. Tentu saja memiliki waktu buat pasangan itu penting, namun jika Anda dapat menemukan minat yang sama dan mencari cara untuk melakukannya bersama-sama, Anda dan pasangan pasti akan tumbuh semakin jauh.

10. Ketidakmampuan Selesaikan Konflik
Setiap pasangan memiliki perbedaan pendapat. Kuncinya adalah mengembangkan aturan-aturan dasar sehingga setiap pasangan merasa dihormati dan didengar. Terkadang dibutuhkan pihak ketiga untuk membantu mendefinisikan aturan-aturan itu dan mengajari untuk melalui emosi yang dibebankan sehingga dendam tidak bertahan lama.
(tsa)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak