Dua Pasang Hati

Kamis, 13 Agustus 2015 - 10:21 WIB
Dua Pasang Hati
Dua Pasang Hati
A A A
”Ra, oi! Lo liatin siapa sih? Gavin kan lagi di Semarang. Mesen makanan dulu keles, kasian tuh Mbaknya udah berdiri cantik nungguin lo mesen,” Echa sambil main handphone sempat menyadarkan sahabatnya. ”Chicken Gordon Blue-nya satu ya, Mbak. Sambelnya yang banyak, diolesin di atas chicken-nya,” Lara berucap tanpa melirik si Mbaknya maupun Echa.

Sedangkan sobatnya itu terperangah mendengar pesanan temannya itu, kalau dia lagi nafsu makan pedes gini... biasanya dia... Belum sempat Echa melanjutkan gumamannya dalam hati, dia akhirnya menemukan siapa yang membuat sobatnya ini jadi nafsu makan pedes. Jawabannya cuma satu, siapa lagi kalau bukan... ”Dia adik kamu ya?” tanya sosok yang lagi diperhatikan keduanya.

Sosok itu mengelus rambut anak perempuan berusia kurang lebih satu setengah tahun yang duduk manis di baby chair, pesanan wanita berkulit putih nan bertubuh proporsional yang cantik. Perempuan itu hanya tersenyum memandang sosok pria bertubuh tegap itu, ikut membelai rambut perempuan kecil itu dengan sayang.

Hati siapa sih yang nggak meleleh melihat wanita cantik ini, dia begitu lembut dan keibuan, senyumnya saja masih sehangat dulu, ketika dia masih lumayan muda. ”Nanti aku jelasin ya, Nan.” Tepat setelah perempuan itu berkata, makanan pesanan keduanya disajikan di hadapannya. Pria itu cuma tersenyum kecil, lalu memotong beef tenderloin steaknya pelan-pelan.

Sambil sesekali bermain dengan anak kecil yang juga sedang makan bubur salmon dan wortel, kesukaannya. ”Pa...pa...”gumam Anak kecil itu memikik senang, sesudahnya dia tersenyum bahagia sambil menatap wajah sosok yang duduk di samping wanita cantik itu. Sontak wanita berkulit putih itu mengisyaratkan anak kecil itu untuk membungkam mulutnya dengan menyuapi mulutnya dengan buburnya.

Lara mendadak tersedak, tepat ketika si anak kecil itu memanggil sosok itu dengan sebutan Papa. Ia bergidik geli sekaligus tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya kini. Sembunyisembunyi, sesekali Lara mencoba memasang indra pendengarannya, demi menggali informasi antara sosok pria itu dan wanitanya.

”Ra, itu...bukannya Keenan, ya? Itu dia maksud lo, pacar barunya Keenan?” Echa berbisik-bisik penasaran, selanjutnya ia dengan sengaja memanasmanasi Lara, ”Pantes Keenan doyan, biar janda anak satu masih kenceng gitu mukanya. Ya nggak pa-palah, Keenan juga udah siap jadi bapak, kok.

” Dalam hati ia terkikik, nih anak kalo nggak gue komporin pasti masih nutupin . Alihalih mendengarkan pancingan sobatnya, gadis itu masih sibuk memasang antene telinganya demi mendapatkan buah pembicaraan mereka. ”Jam tangan kamu...mana?” Tiba-tiba wanita itu terperanjat dengan pergelangan kiri Keenan yang kosong dari jam tangan mahal pemberian perempuan itu.

”Hilang, di kamar pasien,” ujar cowok itu mengaku tanpa menoleh pada perempuan itu. ”Adik kamu ini, namanya siapa?” tanya Keenan sambil mengizinkan telunjuk besarnya dimainkan oleh batita mungil di sampingnya. ”Namanya Tatiana Georgiana Patricia Schuger, Nan,” ucap perempuan itu kembali menatap anak kecil yang sejak tadi sibuk bermain dengan Keenan.

”Indo ya? Pantes mukanya agak bule gitu, ya? Bapaknya atau ibunya yang orang luar?” Perempuan itu menghela nafas, memantapkan hatinya untuk bersikap jujur pada pria itu, ”Ibunya orang Indonesia, Nan. Bapaknya orang Belgia.” Dia tersenyum tegar sesudahnya. Tiba-tiba gadis itu merapatkan posisi duduknya, kemudian memandang Keenan sungguh-sungguh, ”Tatiana sebenernya...anakku, Nan.

” Keenan tak dapat menutupi rasa kekejutannya sekaligus sedikit sedih, mendengar penuturan dari bibir tipis wanita keturunan Tionghoa itu. Hanya saja, seperti biasa-Keenan bukanlah tipe lakilaki yang pandai memperlihatkan perasaannya. Wajahnya kembali datar, beberapa detik kemudian. Perempuan cantik itu perlahan menggenggam lembut tangan Keenan, dan tanpa sadar menitihkan air matanya, ”Maafin aku, Nan.

Aku ngecewain dan nyakitin kamu, sampe kamu jadi kayak gini.” Sama seperti Keenan, Lara tidak bisa menyembunyikan rasa kaget bercampur marah dan benci begitu mengetahui siapa sosok yang sekarang duduk bersama pria itu. (bersambung)

Vania m. Bernadette
(bbg)
Berita Terkait
Bikin Sulit Bernapas,...
Bikin Sulit Bernapas, Hindari Pemicu Asma dengan Mosehat
Kejutkan Pelanggan,...
Kejutkan Pelanggan, Brand Fashion Lokal Ini Bagikan Pandora Box
Mengandung Ekstrak Daun...
Mengandung Ekstrak Daun Kelor, Mosehat Diyakini Mampu Luruhkan Batu Ginjal
Jaga Kebersihan Lantai...
Jaga Kebersihan Lantai agar Selalu Nyaman Berada di Rumah
Dukung Pemulihan Pariwisata,...
Dukung Pemulihan Pariwisata, Eazy Property Lavaya Bali Gelar Soft Launching
Penunjang Kinerja Profesional...
Penunjang Kinerja Profesional dengan Mobilitas Tinggi
Berita Terkini
Ruben Onsu Bongkar Bukti...
Ruben Onsu Bongkar Bukti Transfer Rp11,3 Miliar untuk Rumah Sarwendah
26 menit yang lalu
Pernah Didiagnosis Depresi...
Pernah Didiagnosis Depresi Mayor, Saddam Permana Ceritakan Titik Terendah Hidupnya
40 menit yang lalu
Baper dan Penuh Twist!...
Baper dan Penuh Twist! Bring Back My Heart Jadi Microdrama yang Wajib Ditonton di V+Short
1 jam yang lalu
Road To Kilau Raya MNCTV...
Road To Kilau Raya MNCTV Siap Ajak Warga Klaten Joget dan Nyanyi Lagu-Lagu Viral
1 jam yang lalu
Paula Verhoeven Mohon...
Paula Verhoeven Mohon Doa untuk Kiano yang Tengah Dirawat di RS
2 jam yang lalu
Tak Hanya Rugi Rp3 Miliar,...
Tak Hanya Rugi Rp3 Miliar, Amanda Manopo Ngaku Diguna-guna oleh Mantan Karyawannya
2 jam yang lalu
Infografis
Hati-hati! Ini 10 Tanda...
Hati-hati! Ini 10 Tanda Kolesterol Tinggi yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved