Hari Anak Sedunia, Inspirasi Keluarga Cheria dengan 14 Anak

Kamis, 20 November 2025 - 10:00 WIB
‎Selama satu dekade pernikahan, pasutri ini membangun fondasi rumah tangga yang fokus pada pendidikan dan mindset. Mereka putuskan tidak membeli televisi agar anak leluasa berinteraksi dan berkreasi berbagai kegiatan produktif.



‎Ya, Semua anak tidak ada yang sekolah reguler. Pasutri ini memberi pendidikan nonformal seperti kelompok belajar dan pendidikan anak usia dini bagi balitanya.



‎“Saya belajar dari pengalaman karena kenyang segudang kegiatan akademik. Saya kuliah dengan 3 gelar S1 berbeda. Saya pernah jadi asisten dosen dan beasiswa S2 manajemen bisnis sebuah universitas negeri di Solo. Namun, suami menyarankan saya fokus mengurus anak-anak yang kelak bisa membantu bisnis keluarga," jelas Farida.



‎Ia merasakan yang dipelajari di kampus, tidak relevan dengan jodoh bisnisnya.



‎“Saya merasa banyak waktu terbuang ketika belajar hingga pendidikan tinggi. Banyak sarjana yang lulus dengan nilai tinggi tapi pekerjaannya tidak berbanding lurus dengan ilmu di kampus. Saya putuskan mendidik anak sesuai kebutuhan dan keahlian mereka. Kalau bisa di usia 12, orang tua sudah punya formula mau arahkan anak ke mana. Jadi saya pandu anak belajar berbisnis dan kelak bisa membuka lapangan kerja untuk banyak orang,” paparnya.



‎Konsep banyak anak banyak rezeki, jadi acuan Farida jaga keharmonisan cinta.



‎"Gas aja, meski hati galau. Saya pernah overthinking jika punya anak banyak, gimana mengurusnya. Apalagi saya getol banget menimba ilmu. Pagi kuliah jurusan Sastra Indonesia, siang lanjut kuliah Sastra Jepang, dan malam saya masih kuliah Sastra Arab,” urai Farida.



‎Ia terisak mengenang kisah mellow saat buah cinta pertamanya, meninggal dunia.



‎“Tahun pertama menikah, Allah kasih rezeki. Berhubung saya terlalu sibuk di kampus, jadi enggak sadar lagi hamil. Saya banyak melayani jasa pembuatan skripsi. Saking capeknya, saya sakit tifus. Begitu diperiksa dokter, usia kehamilan saya memasuki bulan keenam. Saya dianjurkan bed rest karena janin lemah. Saya sempat lihat anak kami lahir. Dia tidak nangis. Namun belum satu jam, bayi kami meninggal,” isak Farida.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!