Cara Deteksi Dini Risiko Alergi Anak
Senin, 29 Juni 2020 - 16:32 WIB
Penelitian menyebutkan, anak alergi dapat mengalami gangguan seperti daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif, dan lemas. Foto Ilustrasi/MD Monthly
JAKARTA - Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. Bisa berupa substansi yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh (alergen).
Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan serangga, tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, serta serbuk sari. Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, tubuh akan memproduksi antibodi karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh kembali berpapasan dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi terhadap jenis alergen tersebut. Hal inilah yang memicu pelepasan senyawa kimia dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi.
Alergi bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak dan orangtua. Penelitian menyebutkan, anak alergi dapat mengalami gangguan seperti daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif, dan lemas. Sedangkan bagi orangtua, munculnya gejala alergi pada anak dapat menimbulkan kecemasan berlebih atau lebih parahnya sampai perasaan depresi. (Baca Juga: Alergi Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif )
“Secara sosial, anak serta orangtua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak bisa terhambat," terang Psikolog dari TigaGenerasi Putu Andani, M.Psi, dalam Webinar Bicara Gizi "Allergy Prevention" yang diadakan Danone SN Indonesia.
Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan serangga, tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, serta serbuk sari. Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, tubuh akan memproduksi antibodi karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh kembali berpapasan dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi terhadap jenis alergen tersebut. Hal inilah yang memicu pelepasan senyawa kimia dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi.
Alergi bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak dan orangtua. Penelitian menyebutkan, anak alergi dapat mengalami gangguan seperti daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif, dan lemas. Sedangkan bagi orangtua, munculnya gejala alergi pada anak dapat menimbulkan kecemasan berlebih atau lebih parahnya sampai perasaan depresi. (Baca Juga: Alergi Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif )
“Secara sosial, anak serta orangtua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak bisa terhambat," terang Psikolog dari TigaGenerasi Putu Andani, M.Psi, dalam Webinar Bicara Gizi "Allergy Prevention" yang diadakan Danone SN Indonesia.
Lihat Juga :