Sejarah Perlombaan Burung di Indonesia, Berawal Merangsang Penggemar Baru hingga Tingkatkan Penjualan
Senin, 30 Januari 2023 - 17:37 WIB
loading...
A
A
A
Pada 1973, terbentuk PBI (Pelestarian Burung Indonesia). PBI merupakan cikal bakal terselenggaranya lomba, hingga organisasi perburungan. Tiga tahun kemudian, kontes burung berkicau pertama kali diadakan, yaitu pada 1976.
Saat itu, tujuan dilakukannya kontes adalah untuk meramaikan pasar burung, merangsang penggemar baru, hingga meningkatkan penjualan burung yang dipasarkan. Penggagasnya merupakan pedagang burung Pasar Pramuka Jakarta, dimotori oleh Bapak Sharbo sebagai salah seorang yang juga ikut terlibat terbentuknya PBI.
Baca Juga: Terkesima Lomba Kicau Burung, Anies: Bukan Hanya Hobi, Ekonomi Ikut Bergerak
Jenis burung yang dilombakan pada kontes tersebut merupakan burung dari China, hanya sedikit burung lokal yang dapat diikutsertakan dalam ajang perlombaan. Seiring berkembangnya perlombaan, jenis burung lokal semakin banyak diikutsertakan dalam lomba. Hal ini dipengaruhi pula dengan munculnya wabah flu burung di China, yang membuat pemerintah Indonesia menghentikan impor burung asal China.
Burung asal China yang diperlombakan saat itu adalah hwamei (garrulax canorus), poksay (garrulax chinesis), dan pekin robin (leiothrix lutea). Sementara, burung lokal perlahan mampu menggeser kehadiran burung dari China dan berhasil menjadi primadona. Burung lokal tersebut adalah anis kembang yang populer hingga awal tahun 2000-an.
Bahkan, harganya dapat dibanderol hingga Rp4.000.000 per ekor. Namun sering berjalannya waktu, popularitas anis kembang mulai menurun. Para penggemar burung kicau pun beralih ke burung anis merah. Anis merah kemudian merajai ajang perlombaan, hingga akhirnya pamornya menurun.
Murai batu hadir menggantikan posisi anis merah sebagai buruan kicauan terpopuler. Terdapat subspesies burung murai batu, di antaranya adalah murai batu ras tricolor yang mempunyai keunggulan pada volume serta variasi kicauannya. Populasi murai yang tersebar di Sumatera, Bangka, Belitung serta Natuna ini pintar memainkan intonasi yang indah.
Saat itu, tujuan dilakukannya kontes adalah untuk meramaikan pasar burung, merangsang penggemar baru, hingga meningkatkan penjualan burung yang dipasarkan. Penggagasnya merupakan pedagang burung Pasar Pramuka Jakarta, dimotori oleh Bapak Sharbo sebagai salah seorang yang juga ikut terlibat terbentuknya PBI.
Baca Juga: Terkesima Lomba Kicau Burung, Anies: Bukan Hanya Hobi, Ekonomi Ikut Bergerak
Jenis burung yang dilombakan pada kontes tersebut merupakan burung dari China, hanya sedikit burung lokal yang dapat diikutsertakan dalam ajang perlombaan. Seiring berkembangnya perlombaan, jenis burung lokal semakin banyak diikutsertakan dalam lomba. Hal ini dipengaruhi pula dengan munculnya wabah flu burung di China, yang membuat pemerintah Indonesia menghentikan impor burung asal China.
Burung asal China yang diperlombakan saat itu adalah hwamei (garrulax canorus), poksay (garrulax chinesis), dan pekin robin (leiothrix lutea). Sementara, burung lokal perlahan mampu menggeser kehadiran burung dari China dan berhasil menjadi primadona. Burung lokal tersebut adalah anis kembang yang populer hingga awal tahun 2000-an.
Bahkan, harganya dapat dibanderol hingga Rp4.000.000 per ekor. Namun sering berjalannya waktu, popularitas anis kembang mulai menurun. Para penggemar burung kicau pun beralih ke burung anis merah. Anis merah kemudian merajai ajang perlombaan, hingga akhirnya pamornya menurun.
Murai batu hadir menggantikan posisi anis merah sebagai buruan kicauan terpopuler. Terdapat subspesies burung murai batu, di antaranya adalah murai batu ras tricolor yang mempunyai keunggulan pada volume serta variasi kicauannya. Populasi murai yang tersebar di Sumatera, Bangka, Belitung serta Natuna ini pintar memainkan intonasi yang indah.
Lihat Juga :