Anguis Institute for Health Education Edukasi Masyarakat tentang BPA melalui Buku
Sabtu, 09 Desember 2023 - 20:53 WIB
loading...
A
A
A
Untuk itu Anguis Institute for Health Education Bersama Lembaga Riset Ikatan Dokter Indonesia (LR-IDI) mengadakan Diskusi BPA Session bertema "How to Understand BPA Information Correctly", beberapa waktu lalu.
Menurut panelis Pakar Polimer ITB Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc, PhD, reaksi dari bahan beracun seperti BPA dan Phosgene setelah diproses menjadi polikarbonat adalah senyawa yang aman karena merupakan polimer, sifat kimianya berubah, tidak seperti komponen penyusunnya serta aman dan cenderung tidak reaktif.
"Migrasi BPA dari wadah makanan dan minuman bisa saja terjadi pada sejumlah kondisi di antaranya kondisi kemasan yang rusak; kontak langsung antara makanan dan kaleng; makanan dengan lemak tinggi; kemasan yang lebih tipis; waktu kontak; dan kemasan makanan yang mengalami peningkatan suhu," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Karin Wiradarma, M.Gizi, Sp.GK menuturkan bahwa metabolisme BPA dalam tubuh manusia setelah diserap oleh saluran cerna, BPA akan ditranspor ke hati. Sebesar 90% bentuk tidak aktif dan selanjutnya akan dikeluarkan melalui urine dan feses. Sedangkan 10% merupakan bentuk aktif yang memberikan pengaruh negatif pada tubuh.
Baca Juga: Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Minta Masyarakat Segera Vaksinasi
"Tetapi mengingat jumlahnya sangat kecil dibandingkan batas yang ditetapkan oleh berbagai lembaga pengawasan makanan dan minuman dunia atau BPOM di Indonesia, maka kiranya masih dibutuhkan kajian ilmiah lebih lanjut dalam hubungannya dengan kesehatan manusia," paparnya.
Menurut panelis Pakar Polimer ITB Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc, PhD, reaksi dari bahan beracun seperti BPA dan Phosgene setelah diproses menjadi polikarbonat adalah senyawa yang aman karena merupakan polimer, sifat kimianya berubah, tidak seperti komponen penyusunnya serta aman dan cenderung tidak reaktif.
"Migrasi BPA dari wadah makanan dan minuman bisa saja terjadi pada sejumlah kondisi di antaranya kondisi kemasan yang rusak; kontak langsung antara makanan dan kaleng; makanan dengan lemak tinggi; kemasan yang lebih tipis; waktu kontak; dan kemasan makanan yang mengalami peningkatan suhu," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Karin Wiradarma, M.Gizi, Sp.GK menuturkan bahwa metabolisme BPA dalam tubuh manusia setelah diserap oleh saluran cerna, BPA akan ditranspor ke hati. Sebesar 90% bentuk tidak aktif dan selanjutnya akan dikeluarkan melalui urine dan feses. Sedangkan 10% merupakan bentuk aktif yang memberikan pengaruh negatif pada tubuh.
Baca Juga: Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Minta Masyarakat Segera Vaksinasi
"Tetapi mengingat jumlahnya sangat kecil dibandingkan batas yang ditetapkan oleh berbagai lembaga pengawasan makanan dan minuman dunia atau BPOM di Indonesia, maka kiranya masih dibutuhkan kajian ilmiah lebih lanjut dalam hubungannya dengan kesehatan manusia," paparnya.
Lihat Juga :