Atasi Masalah Kelaparan, Dompet Dhuafa Luncurkan Gerakan Lapor Lapar
Jum'at, 05 April 2024 - 14:38 WIB
loading...
Dompet Dhuafa meluncurkan gerakan Lapor Lapar. Mengambil tajuk Tak Rela Mereka Lapar, gerakan ini merupakan wadah kolaborasi dari berbagai pihak yang ingin mewujudkan kesejahteraan di tengah masyarakat Indonesia. Foto/MPI/Syifa Fauziah Ramadhani
A
A
A
JAKARTA - Di bulan Ramadan yang penuh berkah, Dompet Dhuafa meluncurkan gerakan Lapor Lapar. Mengambil tajuk “Tak Rela Mereka Lapar”, gerakan ini merupakan wadah kolaborasi dari berbagai pihak yang ingin mewujudkan kesejahteraan di tengah masyarakat Indonesia.
Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan kelaparan di tengah masyarakat perkotaan. Apalagi permasalahan seperti ini tidak bisa hanya diatasi oleh pemerintah.
Senior Officer Aliansi Strategis dan Volunteer Dompet Dhuafa Syamsul Ardiansyah menjelaskan, terbentuknya gerakan Lapor Lapar karena melihat dari angka kemiskinan di Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencapai 29 juta.
Baca Juga: Zara Anak Ridwan Kamil Putuskan Lepas Hijab: Ini Caraku untuk Jujur
“Penerima iuran BPJS ini sampai angka Rp100 juta. Tapi angka tersebut bukan kategori miskin, melainkan aspirasi kelas menengah,” ujarnya saat ditemui dalam acara Media Gathering Dompet Dhuafa di Twin House Blok M, Jakarta, baru-baru ini.
Setelah dilakukan analisis terhadap kelompok ini, ditemukan isu tentang kebutuhan makan yang menyedot pendapatan. Khususnya di Jabotabek karena harga makanan yang cukup mahal sehingga menguras anggaran.
Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan kelaparan di tengah masyarakat perkotaan. Apalagi permasalahan seperti ini tidak bisa hanya diatasi oleh pemerintah.
Senior Officer Aliansi Strategis dan Volunteer Dompet Dhuafa Syamsul Ardiansyah menjelaskan, terbentuknya gerakan Lapor Lapar karena melihat dari angka kemiskinan di Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencapai 29 juta.
Baca Juga: Zara Anak Ridwan Kamil Putuskan Lepas Hijab: Ini Caraku untuk Jujur
“Penerima iuran BPJS ini sampai angka Rp100 juta. Tapi angka tersebut bukan kategori miskin, melainkan aspirasi kelas menengah,” ujarnya saat ditemui dalam acara Media Gathering Dompet Dhuafa di Twin House Blok M, Jakarta, baru-baru ini.
Setelah dilakukan analisis terhadap kelompok ini, ditemukan isu tentang kebutuhan makan yang menyedot pendapatan. Khususnya di Jabotabek karena harga makanan yang cukup mahal sehingga menguras anggaran.
Lihat Juga :