3 Penyakit Warga Gaza Akibat Agresi Israel sejak 7 Oktober 2023

Minggu, 26 Mei 2024 - 18:27 WIB
loading...
3 Penyakit Warga Gaza Akibat Agresi Israel sejak 7 Oktober 2023
Penyakit warga Gaza semakin memprihatinkan sejak agresi Israel dilancarkan pada 7 Oktober 2023. Foto/Msf.org
A A A
JAKARTA - Penyakit warga Gaza semakin memprihatinkan sejak agresi Israel dilancarkan pada 7 Oktober 2023. Apalagi fasilitas kesehatan di sana banyak yang hancur akibat serangan bom, membuat para pasien tak bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang layak.

Warga Gaza dilaporkan menderita sejumlah penyakit. Ada yang menular, penyakit kronis, malnutrisi, bahkan kesehatan mental mereka pun terganggu.

Terdapat sejumlah penyakit yang menjangkiti warga Gaza saat ini, yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Merangkum laporan situs organisasi kemanusiaan medis internasional independen, msf.org, berikut penyakit yang kini banyak diidap warga Gaza.


Penyakit Warga Gaza Akibat Agresi Israel

1. Penyakit Menular dan Kronis

MSF mencatat ada peningkatan jumlah kasus dugaan hepatitis A. Selain itu, di tiga bulan terakhir tahun 2023, kasus diare pada anak balita dilaporkan meningkat 25 kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2022.

Di dua pusat layanan kesehatan umum yang dijalankan oleh MSF di wilayah Al-Shaboura dan Al-Mawasi, ada rata-rata 5.000 konsultasi medis setiap minggu. Banyak di antaranya terkait dengan kondisi kehidupan masyarakat yang di bawah standar. Lebih dari 40 persen konsultasi ini diperuntukkan bagi pasien yang menderita infeksi saluran pernapasan atas.

Di klinik MSF tersebut, pasien yang berobat karena hipertensi, diabetes, asma, epilepsi, dan kanker juga semakin meningkat. Jika kondisi mereka memburuk dan memerlukan pengobatan atau peralatan khusus yang notabene semakin sulit didapatkan di Gaza, diprediksi para pasien ini akan terancam meninggal dunia.

Sementara itu, kantor media pemerintah Gaza belum lama ini juga melaporkan lebih dari satu juta kasus penyakit menular terjadi akibat pengungsian massal di Jalur Gaza.

Menurut kantor media tersebut, ada sekitar 1.089.000 kasus penyakit menular dan 8.000 kasus hepatitis C tercatat di Gaza. Selain itu, ada 10.000 pasien kanker yang berisiko meninggal dan sangat membutuhkan perawatan medis.

2. Malnutiri

Antara Januari hingga Maret 2024, MSF mencatat telah merawat 216 anak balita yang menderita malnutrisi akut, sedang, hingga berat. Kondisi ini, menurut MSF, hampir tidak ada sebelum agresi Israel.

Karena rumah sakit kewalahan menangani pasien trauma, orang-orang dengan kebutuhan medis lain seperti wanita hamil dengan komplikasi dan pasien yang menderita penyakit kronis, sering kali tidak bisa menerima perawatan yang mereka perlukan.

Di rumah sakit Emirat, tempat MSF mendukung bagian pascapersalinan, tim medis berjuang untuk menangani hampir 100 persalinan setiap hari, lima kali lebih banyak dibandingkan sebelum perang.


3. Gangguan Mental

Kesehatan mental masyarakat di Gaza, termasuk staf medis, juga dilaporkan buruk. Kebanyakan pasien yang datang ke klinik MSF memiliki gejala yang berhubungan dengan kecemasan dan stres, termasuk kondisi psikosomatis dan depresi.

Beberapa orang yang merawat anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental yang parah terpaksa memberikan obat penenang berlebihan untuk menjaga mereka tetap aman dan mencegah pasien tersebut melukai diri sendiri atau orang lain, karena kurangnya layanan khusus yang masih berfungsi di Gaza.

"Bagi tim kami, mencoba mendukung sistem layanan kesehatan di Gaza yang hancur merupakan tantangan yang sangat berat karena ketidakamanan. Kami juga menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke Gaza karena penundaan dan pembatasan yang dilakukan oleh otoritas Israel," kata Sylvain Groulx, koordinator darurat MSF.

“Staf medis Palestina sangat terampil dan hanya perlu diberikan sarana untuk bekerja dalam kondisi yang dapat diterima serta bermartabat untuk merawat dan menyelamatkan nyawa. Namun, saat ini semua hal tersebut masih mustahil dilakukan. Tanpa gencatan senjata yang segera dan berkelanjutan, serta masuknya bantuan kemanusiaan yang berarti, kita akan terus melihat lebih banyak orang meninggal,” pungkas Groulx.
(tsa)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2303 seconds (0.1#10.140)
pixels