Buku Makanya, Mikir! Diluncurkan, Ratusan Pengunjung Padati Ganara Art
Kamis, 23 Januari 2025 - 11:30 WIB
loading...
Peluncuran buku Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta berlangsung meriah di Ganara Art FX Sudirman, dengan kehadiran lebih dari 500 orang. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Peluncuran buku "Makanya, Mikir!" karya Abigail Limuria dan Cania Citta berlangsung meriah di Ganara Art FX Sudirman, dengan kehadiran lebih dari 500 orang. Acara yang dirancang sebagai selebrasi pemikiran kritis ini menyajikan monolog dan talkshow inspiratif dari para tokoh ternama, termasuk Najwa Shihab, Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan lainnya.
Dalam sesi talkshow, Najwa Shihab menyoroti kebiasaan masyarakat modern dalam mengonsumsi informasi. “Banyak orang sekarang membaca melalui media sosial. Baru baca headlines atau firstline-nya, ditambah rentetan komentar, sudah merasa paham soal persoalannya. Kita merasa sudah berpikir, tetapi sebenarnya kita sering gagal mengingat masa lalu dan menganalisisnya secara kritis. Kerangka berpikir itu metode untuk mencerna segala informasi dan menyelesaikan sebuah masalah,” ujar Najwa. Perspektifnya mengajak peserta untuk tidak hanya berhenti pada permukaan informasi, tetapi mendalami dan memprosesnya secara kritis.
Anies Baswedan, dalam monolognya, berbagi pengalaman tentang pentingnya berpikir kritis dalam konteks demokrasi. “Salah satu ciri yang saya alami selama menjalankan karier adalah menyukai pertanyaan yang rumit dan sulit karena itu memaksa kita untuk berpikir. Kenapa berpikir kritis itu penting dalam sebuah demokrasi? Negara-negara maju memiliki kebebasan berkompetisi berupa ide dan gagasan, yang disebut sebagai demokrasi. Jika kita diberi ruang tapi tidak diberi waktu untuk kritis, maka itu sama saja. Judul buku 'Makanya, Mikir!' menjadi salah satu ruang untuk berpikir kritis,” jelas Anies.
Baca Juga: Paula Verhoeven Diduga Sering Berduaan dengan Pria Lain, Pengacara: Sampai Jam 4 Subuh
Ia juga menambahkan, “Kehadiran saya di sini awalnya untuk monolog, namun akhirnya kehadiran semua rekan-rekan menjadi dialog yang melatarbelakangi pentingnya berpikir kritis. ‘Think like a stranger, act like a native.’ Sudah lama di Indonesia, apa yang sudah terjadi sering kali dimaklumi dan jadi kebiasaan. Kita harus berpikir seperti orang asing untuk memunculkan pertanyaan baru yang menjadi dasar diskusi.”
Dalam sesi talkshow, Najwa Shihab menyoroti kebiasaan masyarakat modern dalam mengonsumsi informasi. “Banyak orang sekarang membaca melalui media sosial. Baru baca headlines atau firstline-nya, ditambah rentetan komentar, sudah merasa paham soal persoalannya. Kita merasa sudah berpikir, tetapi sebenarnya kita sering gagal mengingat masa lalu dan menganalisisnya secara kritis. Kerangka berpikir itu metode untuk mencerna segala informasi dan menyelesaikan sebuah masalah,” ujar Najwa. Perspektifnya mengajak peserta untuk tidak hanya berhenti pada permukaan informasi, tetapi mendalami dan memprosesnya secara kritis.
Anies Baswedan, dalam monolognya, berbagi pengalaman tentang pentingnya berpikir kritis dalam konteks demokrasi. “Salah satu ciri yang saya alami selama menjalankan karier adalah menyukai pertanyaan yang rumit dan sulit karena itu memaksa kita untuk berpikir. Kenapa berpikir kritis itu penting dalam sebuah demokrasi? Negara-negara maju memiliki kebebasan berkompetisi berupa ide dan gagasan, yang disebut sebagai demokrasi. Jika kita diberi ruang tapi tidak diberi waktu untuk kritis, maka itu sama saja. Judul buku 'Makanya, Mikir!' menjadi salah satu ruang untuk berpikir kritis,” jelas Anies.
Baca Juga: Paula Verhoeven Diduga Sering Berduaan dengan Pria Lain, Pengacara: Sampai Jam 4 Subuh
Ia juga menambahkan, “Kehadiran saya di sini awalnya untuk monolog, namun akhirnya kehadiran semua rekan-rekan menjadi dialog yang melatarbelakangi pentingnya berpikir kritis. ‘Think like a stranger, act like a native.’ Sudah lama di Indonesia, apa yang sudah terjadi sering kali dimaklumi dan jadi kebiasaan. Kita harus berpikir seperti orang asing untuk memunculkan pertanyaan baru yang menjadi dasar diskusi.”
Lihat Juga :