Kegiatan Posyandu Terhenti di Masa Pandemi, Kasus Stunting Masih Membengkak
Selasa, 04 Mei 2021 - 16:35 WIB
loading...
Kasus stunting di Indonesia menempati 4 tertinggi di dunia, bahkan nomor 2 terbanyak se-Asia Tenggara. / Foto: ilustrasi/dok. SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kasus stunting Indonesia menempati 4 tertinggi di dunia, bahkan nomor 2 terbanyak se-Asia Tenggara. Angka kasusnya per 2019 masih di 27,6 persen lebih tinggi dari batas toleransi yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni kurang dari 20 persen.
Baca juga: Rekomendasi Menu Buka Puasa Hari Ini: Resep Ayam Bakar Cabe Ijo ala Eric Herjanto
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tapinya mengungkapkab bahwa angka tersebut semakin baik dalam 5 tahun terakhir. Ya, di 2013 angka stunting Indonesia pernah berada di 37,8 persen. Fakta menyedihkan pastinya, karena banyak dari generasi penerus bangsa yang tidak berkualitas akibat stunting.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa stunting mesti ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh atau stunting," katanya dalam Webinar kesehatan, Selasa (4/5/2021).
Ia melanjutkan, program edukasi itu penting agar anak tidak salah gizi. Hal lain yang tak kalah penting perlu diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi si anak.
Kondisi pandemi seperti sekarang ini pun memberi dampak nyata pada penanganan stunting di Indonesia. Ya, menurut Hasto, efek pandemi, banyak posyandu yang tidak berkegiatan dan ini memberi efek pada penanganan stunting.
"Pandemi telah mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti, padahal selama ini posyandu berperan besar sebagai langkah awal pengawasan gizi anak. Kami berharap kolaborasi dari pihak lain seperti yang dilakukan KALBE Nutritionals dan Klikdokter lewat program 'Smart Sharing' dapat menjadi alternatif supaya gizi dan kesehatan anak di Indonesia terpantau," tambah Hasto.
Baca juga: Rekomendasi Menu Buka Puasa Hari Ini: Resep Ayam Bakar Cabe Ijo ala Eric Herjanto
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tapinya mengungkapkab bahwa angka tersebut semakin baik dalam 5 tahun terakhir. Ya, di 2013 angka stunting Indonesia pernah berada di 37,8 persen. Fakta menyedihkan pastinya, karena banyak dari generasi penerus bangsa yang tidak berkualitas akibat stunting.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa stunting mesti ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh atau stunting," katanya dalam Webinar kesehatan, Selasa (4/5/2021).
Ia melanjutkan, program edukasi itu penting agar anak tidak salah gizi. Hal lain yang tak kalah penting perlu diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi si anak.
Kondisi pandemi seperti sekarang ini pun memberi dampak nyata pada penanganan stunting di Indonesia. Ya, menurut Hasto, efek pandemi, banyak posyandu yang tidak berkegiatan dan ini memberi efek pada penanganan stunting.
"Pandemi telah mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti, padahal selama ini posyandu berperan besar sebagai langkah awal pengawasan gizi anak. Kami berharap kolaborasi dari pihak lain seperti yang dilakukan KALBE Nutritionals dan Klikdokter lewat program 'Smart Sharing' dapat menjadi alternatif supaya gizi dan kesehatan anak di Indonesia terpantau," tambah Hasto.
Lihat Juga :