Indonesia Diingatkan Potensi Puncak Kembar Covid-19, Apa Maksudnya?

loading...
Indonesia Diingatkan Potensi Puncak Kembar Covid-19, Apa Maksudnya?
Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman memperingatkan Indonesia akan bahaya serangan potensi puncak kembar. / Foto: ilustrasi/dok. SINDOnews
JAKARTA - Varian Covid-19 semakin banyak ditemukan di Indonesia. Kementerian Kesehatan sudah mencatat bahwa 12 provinsi memiliki kasus varian Covid-19, dengan varian Delta yang cukup disorot karena belakangan ini banyak ditemukan di Kudus.

Baca juga: Ada di Lebih dari 80 Negara, Covid-19 Varian Delta Menyebar Sangat Cepat

Tapi, epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman memperingatkan Indonesia akan bahaya serangan potensi puncak kembar. Apa artinya?

"Jadi, saya melihat akan adanya lonjakan kasus dua varian Covid-19 di Indonesia, yaitu varian Alpha dan varian Delta dan keduanya bisa saja muncul dalam waktu yang berdekatan," kata Dicky pada MNC Portal, Kamis (17/6).



Akan tetapi, sambung Dicky, kemunculan pertama kasus akan 'di-lead' varian Alpha (B.1.1.7) yang pertama teridentifikasi di Inggris. "Varian ini akan memuncak di akhir Juni 2021," tegasnya.

Lalu, akan disambung dengan potensi kemunculan varian Delta yang sudah semakin banyak ditemukan di masyarakat. Menurut Dicky, puncak varian Delta akan dimulai dari Juli 2021.

"Kehadiran potensi puncak kembar varian Covid-19 ini bukan semata-mata karena meningkatnya mobilitas masyarakat saat arus mudik dan arus balik, tetapi akumulasi dari perjalanan setahun pandemi Covid-19 di Indonesia mulai dari libur tahun baru, Pemilu, atau juga momen liburan," papar Dicky.

Dengan adanya potensi puncak kembar ini, Dicky mengharapkan adanya upaya serius dari pemerintah dan juga masyarakat supaya penyebaran varian tidak semakin meluas di masyarakat. Harapannya jelas agar potensi tersebut tidak terjadi.

" Adanya potensi puncak kembar varian Covid-19 ini mesti segera diantisipasi baik oleh pemerintah maupun masyarakat supaya kemungkinan lonjakan kasus yang parah tidak terjadi. Tentu, dengan memperkuat 3T oleh pemerintah dan juga vaksinasi yang lebih kuat, dan untuk masyarakat semakin disiplin menjalankan 5M," sarannya.

Baca juga: Nanya Vendor Dekorasi Pernikahan dan Minta Doa, Syakir Daulay Mau Nikah?



Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa faktor penentu lonjakan kasus di Indonesia adalah tingginya pergerakan masyarakat selama Ramadhan, khususnya pada arus mudik dan arus balik. Faktor itu juga yang menjadi penyumbang angka kasus di Kudus yang kini masih terus berjuang melawan Covid-19.
(nug)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top