Kemenag RI Perkenalkan Metode BRUS untuk Tekan Angka Pernikahan Anak yang Makin Tinggi
Selasa, 09 Januari 2024 - 17:40 WIB
Dalam acara yang sama, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kemenag Agus Suryo Suripto membenarkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pernikahan anak yang tinggi. Menurutnya, Kemenag melakukan upaya yang serius untuk menekan angka pernikahan anak di Indonesia.
Konsep BRUS, menurut dia, merupakan upaya edukasi untuk remaja usia sekolah agar mampu menyiapkan masa depan sebaik-baiknya. Lewat program itu remaja dibekali dengan upaya-upaya penguatan karakter dan kesadaran pengelolaan kepribadian yang baik. Nantinya generasi muda bisa memiliki kemampuan mengelola diri dan lingkungan agar tidak terjebak pada lingkungan sosial dan pergaulan bebas.
Agus Suryo Suripto juga meminta peserta BRUS+, yang terdiri dari siswa-siswi SMA se-Jabodetabek, untuk melakukan persiapan yang matang sebelum menikah. Menurutnya, dua aspek penting yang perlu dipersiapkan sebelum menikah adalah kesadaran dalam mengelola diri dan penguatan keagamaan.
"Pertama, persiapkan masa depan dengan membangun kesadaran dalam pengelolaan diri, setiap remaja mempunyai potensi diri harus bisa dikembangkan. Generasi muda punya masa depan yang harus diperjuangkan. Kedua, perkuat pendidikan agama, karena agama merupakan benteng dari pergaulan dan lingkungan sosial yang tidak baik," terangnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka perkawinan anak di Indonesia tahun 2023 sebesar 9,23 persen atau 163.371 peristiwa nikah anak. Artinya 1 dari 9 perempuan menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki, di mana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak.
Baca Juga: 4 Tanda Sushi Masih Layak Makan, Perhatikan Tekstur dan Aroma
Konsep BRUS, menurut dia, merupakan upaya edukasi untuk remaja usia sekolah agar mampu menyiapkan masa depan sebaik-baiknya. Lewat program itu remaja dibekali dengan upaya-upaya penguatan karakter dan kesadaran pengelolaan kepribadian yang baik. Nantinya generasi muda bisa memiliki kemampuan mengelola diri dan lingkungan agar tidak terjebak pada lingkungan sosial dan pergaulan bebas.
Agus Suryo Suripto juga meminta peserta BRUS+, yang terdiri dari siswa-siswi SMA se-Jabodetabek, untuk melakukan persiapan yang matang sebelum menikah. Menurutnya, dua aspek penting yang perlu dipersiapkan sebelum menikah adalah kesadaran dalam mengelola diri dan penguatan keagamaan.
"Pertama, persiapkan masa depan dengan membangun kesadaran dalam pengelolaan diri, setiap remaja mempunyai potensi diri harus bisa dikembangkan. Generasi muda punya masa depan yang harus diperjuangkan. Kedua, perkuat pendidikan agama, karena agama merupakan benteng dari pergaulan dan lingkungan sosial yang tidak baik," terangnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka perkawinan anak di Indonesia tahun 2023 sebesar 9,23 persen atau 163.371 peristiwa nikah anak. Artinya 1 dari 9 perempuan menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki, di mana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak.
Baca Juga: 4 Tanda Sushi Masih Layak Makan, Perhatikan Tekstur dan Aroma
Lihat Juga :