alexametrics

Catatan Perjalanan (III-habis)

Setangkai Anggrek Bulan di Radika Paradise

loading...
Setangkai Anggrek Bulan di Radika Paradise
Vila-vila Radika Paradise berjejer rapi di lereng bukit Tenggole, Ngasem, Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta. Foto ist.
A+ A-
"Bunga anggrek yang kusayang

Kini tersenyum berdendang

Bila engkau berduka

Matahari tak bersinar lagi

Matahari tak bersinar lagi".


Lirik-lirik dari bait terakhir lagu berjudul Setangkai Anggrek Bulan. Lagu ini dinyanyikan Pak Cyrillus Harinowo, duet bersama istrinya tercinta di ruang diskusi Radika Paradise, Sabtu (29/9) malam itu. Malam yang istimewa dan penuh makna. Setangkai Anggrek Bulan didendang di puncak Tenggole yang hening.

Saya merasa Setangkai Anggrek Bulan yang dibawakan pengamat pariwisata itu punya makna melampaui lagu itu sendiri. Yaitu sebuah cerita tentang Radika Paradise. Bahkan lebih luas, cerita tentang Gunung Kidul. Sama seperti dia menceritakan Gunung Kidul lewat lisan pun tulisannya.

Dengan jujur dia mengisahkan, mengapa dia berusaha sekuat tenaga mengembangkan pariwisata di Gunung Kidul. Diakuinya, meski pun dirinya warga Yogyakarta dan kuliahnya di UGM, namun baru tahun 2004 menginjakkan kaki di Gunung Kidul, persisnya di Dusun Jati Semanuk.

"Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini tahun, 2004 saat saya sudah di berada di BCA. Waktu itu saya ada acara di Dusun Jati Semanuk. Saat saya pergi ke toilet, air krannya jernih sekali. Menurut masyarakat setempat, ternyata desa itu memiliki sumber air dari Bribin. Dari sinilah saya yakin, Gunung Kidul berpotensi untuk dikembangkan," lisannya.

Pengalaman itu menggeraknya untuk menulis berbagai artikel terkait potensi Gunung Kidul. Artikel Monterrey di Gunung Kidul yang pernah dimuat di Koran Sindo mengandung asa yang kuat. Di Radika Paradise, malam itu, harapan membuncah, lewat Setangkai Anggrek Bulan.

Lirik-lirik itu pas sebuah potret alam Gunung Kidul yang dulu 'layu', kini mulai mekar bagai anggrek bulan. Lirik-lirik Setangkai Anggrek Bulan juga pas melukiskan bukit Tenggole yang gersang bercadas, kini ditumbuhi taman dan vila-vila kokoh yang menopang industri pariwisata.

Lihat! Vila-vila itu, berbagi ruang dengan batu cadas dan jati meranggas. Tersirat sebuah pesan harmoni antara yang modern dan tradisional. Antara buatan tangan manusia dengan keaslian alam ciptaan-Nya.

Hunian di Radika Paradise, berbentuk rumah panggung, atap miring, dan ruang lega tak bersekat. Bangunan ditopang tiang. Ada empat baris tiang, semuanya dari beton dengan fondasi cakar ayam. Tiap baris ada tiga tiang.

Jadi, untuk menopang vila ada sebanyak duabelas tiang. Karena dipantek di tebing bukit, maka barisan tiang paling belakang -dilihat tampak depan dari jalan- sangat pendek. Bahkan nyaris tak kelihatan.

Saya tidak sempat ukur tinggi tiang paling depan. Dari belasan anak tangga yang saya hitung saat naik dan turun -sekitar 12 anak tangga kalau tidak salah-saya perkirakan tinggi tiang tampak depan sekira 3 meter lebih.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak