Mitos atau Fakta, Olahraga Lari Bisa Picu Serangan Jantung bagi Orang dengan Riwayat Penyakit Kardiovaskular

Senin, 30 September 2024 - 09:39 WIB
loading...
Mitos atau Fakta, Olahraga...
Banyak anggapan yang beredar bahwa orang yang telah memiliki riwayat penyakit jantung sebaiknya menghindari olahraga lari. Benarkah demikian? Foto Ilustrasi/iStock
A A A
JAKARTA - Lari merupakan jenis olahraga yang memiliki manfaat terhadap kesehatan jantung. Pasalnya, olahraga satu ini mampu meningkatkan detak jantung dan fungsi pompa jantung, sehingga darah dapat tersalurkan ke seluruh tubuh dan sirkulasi darah meningkat.

Hal ini tentu bermanfaat untuk memperkuat otot jantung, mengurangi risiko pembekuan darah, serta mengoptimalkan fungsi jantung. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin berolahraga lari memiliki risiko yang lebih rendah terkena penyakit jantung.

Meski begitu, masih banyak anggapan yang beredar bahwa orang yang telah memiliki riwayat penyakit jantung sebaiknya menghindari olahraga lari. Benarkah demikian? Berikut ulasannya, melansir dari berbagai sumber.

Baca Juga: Apa Itu Pace dalam Olahraga Lari? Simak Penjelasan Lengkapnya

Pada prinsipnya, olahraga adalah salah satu cara mencegah berbagai macam penyakit jantung, tidak terkecuali lari. Namun olahraga ada aturannya.

Orang tidak bisa sembarangan berolahraga, terutama bila ada kondisi medis tertentu yang bisa terpicu akibat aktivitas olahraga yang dilakukan.

Orang yang berisiko terkena serangan jantung saat berolahraga umumnya memang sudah mengidap penyakit jantung dan pembuluh darah sebelumnya. Menurut sejumlah penelitian, olahraga rutin bisa menguatkan jantung dan menurunkan risiko masalah kardiovaskular. Tapi olahraga berlebihan, salah satunya lari, akan meningkatkan risiko serangan jantung dan henti jantung mendadak.

Hal ini khususnya berlaku buat orang-orang yang punya risiko serangan jantung sebelumnya, baik akibat gaya hidup kurang sehat maupun faktor keturunan.

Sebuah penelitian terhadap sejumlah pelari maraton menemukan bahwa darah mereka mengandung penanda biologis (biomarker) yang terkait dengan kerusakan jantung. Temuan ini didapatkan setelah para pelari menuntaskan lomba lari ekstrem. Indikator kerusakan jantung itu biasanya sirna dengan sendirinya.

Namun, bila jantung mengalami tekanan fisik berulang, kerusakan yang temporer bisa mengakibatkan perubahan fisik pada jantung, misalnya dinding jantung lebih tebal atau terbentuk luka pada jantung.

Orang berusia muda dan sehat lebih kecil kemungkinannya mengalami serangan jantung saat melakukan olahraga lari. Namun, bukan berarti orang muda mustahil terkena serangan jantung.

Serangan jantung sendiri kondisi medis serius yang terjadi etika pasokan darah ke jantung terhambat atau terhenti sama sekali. Dalam dunia kedokteran, serangan jantung disebut infark miokard. Orang yang mengalaminya membutuhkan perawatan di rumah sakit jantung.

Baca Juga: Perbedaan Gejala Henti Jantung, Serangan Jantung, dan Gagal Jantung

Serangan jantung bisa berakibat fatal, tapi ada juga serangan yang ringan. Namun, bukan berarti serangan ringan tak membutuhkan pemeriksaan.

Terlepas dari intensitasnya, serangan itu bisa merusak otot jantung karena kurangnya suplai oksigen. Terlebih bila serangan terjadi berulang kali walau ringan. Oksigen dan nutrisi diterima jantung bersama dengan darah.

Pasokan darah ke jantung mengalami gangguan ketika ada masalah pada pembuluh darah atau arteri koroner. Arteri bisa menjadi sempit atau mengeras karena akumulasi plak yang terdiri atas lemak, kolesterol, dan zat lain di dalamnya.

Ketika plak itu tertumpuk, aliran darah dalam arteri menjadi terganggu, bahkan tersumbat sepenuhnya. Sumbatan bisa juga terjadi karena gumpalan darah yang muncul akibat pecahnya plak dalam arteri.
(tsa)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Studi: 2 dari 5 Orang...
Studi: 2 dari 5 Orang Kardiovaskular Berisiko Serangan Jantung dan Stroke
Kondisi Terkini Haji...
Kondisi Terkini Haji Bolot, Sudah Dipindah ke Ruang Rawat Inap dan Mulai Pulih
Menkes Budi Gunadi Soroti...
Menkes Budi Gunadi Soroti Fenomena FOMO Lari: Tak Masalah asal Sehat
Kondisi Kesehatan Haji...
Kondisi Kesehatan Haji Bolot Sudah Membaik, Ingin Segera Pulang dan Beraktivitas
Kondisi Haji Bolot Mulai...
Kondisi Haji Bolot Mulai Membaik, Sudah Tak Keluhkan Sesak Napas
Jangan Sepelekan Kolesterol...
Jangan Sepelekan Kolesterol Tinggi, Diam-diam Sebabkan Serangan Jantung
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Pancasakti Run 2026:...
Pancasakti Run 2026: Lari Sambil Selamatkan Bumi
Pancasakti Run 2026...
Pancasakti Run 2026 Tawarkan Kesempatan Menuju World Marathon Majors 2027
Rekomendasi
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Norwegia Lolos ke 16...
Norwegia Lolos ke 16 Besar usai Singkirkan Pantai Gading 2-1
Berita Terkini
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Usia 30-an Lutut Mulai...
Usia 30-an Lutut Mulai Rewel? Mengapa Welmove Bukan Hanya Suplemen untuk Orang Tua
My Devil President:...
My Devil President: Microdrama CEO yang Penuh Plot Twist
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Swift Vows Love Story Unfolds di V+Short, Kisah Cinta CEO
Infografis
Klaim AS Hendak Bunuh...
Klaim AS Hendak Bunuh Putin Bisa Picu Perang Nuklir dengan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved