Bu Kek Sian Su & Suling Emas

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 28

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 28

Suara itu merayu dan seperti menghimpit perasaan Lu Sian. Tidak kuat ia menahan lebih lama lagi, maka sambil berlutut di depan kakek itu ia berteriak.
  • Suling Emas Jilid 27 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 27

    Eng Eng merintih lirih, menggerakkan kepala ke kanan kiri dan membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama ketika ia membuka mata adalah hutan kemerah-merahan di depannya. Gadis ini kaget, bangkit dan merangkul Bu Song, katanya, Song-ko... apakah kita berada di sorga?

  • Suling Emas Jilid 26 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 26

    Berjam-jam mereka bertanding dengan hebat. Kadang-kadang mereka bergerak cepat sehingga bayangan mereka menjadi satu, sinar senjata mereka saling belit. Kadang-kadang gerakan mereka lambat dan dalam jurus-jurus ini mereka bertanding mengandalkan tenaga dalam yang juga seimbang. Matahari pagi sudah muncul mengusir kabut pagi, dan mereka masih terus bertanding seru. Keduanya sudah lelah. Keringat mulai membasahi muka dan leher. Namun belum juga ada yang mengalah.

  • Suling Emas Jilid 25 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 25

    Diam-diam Kim-mo Taisu terkejut. Ia segera mengenal kakek cebol ini yang bukan lain adalah Bu Tek Lojin yang pernah ia jumpai di waktu ia berkelana sampai di Khitan! Akan tetapi Kong Lo Sengjin tidak mengenalnya, bahkan belum pernah mendengar tentang seorang tokoh kang-ouw seperti kakek cebol ini.

  • Bukek Siansu Jilid 24 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 24

    Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kwee Seng ketika ia tiba di puncak, dari jarak jauh ia melihat isterinya, Khu Gin Lin, sedang bertanding seru melawan seorang laki-laki yang berjenggot pendek, berambut panjang seperti saikong dan memegang sebatang pedang.

  • Suling Emas Jilid 23 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 23

    Karena mendapat janji akan diberi pelajaran Ilmu Sia-kut-hoat yang amat ia inginkan, pemuda ini memenuhi permintaan Lu Sian, lalu menyimpan bukunya dan berdiri menghadapi Lu Sian.

  • Suling Emas Jilid 22 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 22

    Mereka bangkit dengan sikap hormat. Sediakan dua ekor kuda untuk kami! kata pula pemuda itu. Cepat sekali dua orang di antara mereka keluar dan terdengarlah tak lama kemudian derap kaki dua ekor kuda di depan pintu rumah makan.

  • Suling Emas Jilid 21 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 21

    Akan tetapi enam orang murid Siauw-lim-pai itu hanya berdiri menghadang dengan sinar mata tajam, tidak turun tangan karena memang mereka hanya bermaksud mencegah wanita cantik itu keluar dari situ. Mereka tidak akan mengganggu suasana hening dan penuh khidmat dalam upacara sembahyang itu.

  • Suling Emas Jilid 20 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 20

    Lu Sian gemas. Orang tua ini harus diberi rasa, pikirnya. Kali ini aku akan memukul mampus muridnya, lihat dia hendak berlagak bagaimana lagi? Maka ia cepat berseru keras dan mendahului Kalisani, menerjang dengan cepat. 

  • Suling Emas Jilid 19 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 Bagian 4

    Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, akan tetapi tidak menjawab apa-apa. Baginya, perasaan dendam itu tidak ada dan tak dapat ia merasai atau mengerti apa yang diutarakan isterinya itu, karena ia sendiri tidak pernah melibatkan diri dengan urusan negara. 

  • Suling Emas Jilid 19 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 bagian 3

    Gin Lin tersenyum dengan air mata masih bercucuran, lalu menggandeng tangan anak itu. Eng Eng, dia ini ayahmu, Nak. Kwee-koko, setelah kau pergi, aku... aku melahirkan anak ini. Hanya karena dialah maka aku merobah tekadku untuk mati di Neraka Bumi, aku membawanya keluar mencarimu. Dia ini anakmu, Kwee-koko. 

  • Suling Emas Jilid 19 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 Bagian 2

    Terpaksa ia melepaskan cambuknya yang melibat tubuh lawan dan bergulingan ke belakang! Memang Kim-mo Taisu juga hanya menggunakan siasat agar terlepas dari libatan cambuk, maka ia tidak mengejar karena pada saat itu, pedang di tangan Pouw Kee Lui sudah menyerangnya dengan ganas sekali, disusul pula hantaman tongkatnya. Kim-mo Taisu cepat menangkis pedang dan tongkat. Oleh dorongan hawa sakti dari tubuh mereka, ketiga senjata ini melekat, saling mengisap dan saling membetot.  

  • Suling Emas Jilid 19 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 Bagian 1

    Marahlah tiga orang itu, terutama sekali Ban-pi Lo-cia. Beberapa tahun yang lalu, ia masih dapat mengatasi kepandaian Kim-mo-eng, dan selama ini kepandaiannya sendiri tidak berkurang, sungguhpun tenaga dalam dan hawa sakti di dalam tubuhnya tentu tidak memperoleh kemajuan karena terlalu menuruti nafsu birahinya yang tak kunjung padam. Namun ia merasa lebih unggul daripada seorang lawan semuda Kim-mo-eng yang kini menjadi Kim-mo Taisu.

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 12

    Betapa pun Kim-mo Taisu mengerahkan kepandaian, tetap ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk balas menyerang. Namun, kelima orang lawannya itu pun terheran-heran betapa orang yang mereka keroyok itu selalu dapat menghindar dari serangan yang bertubi-tubi itu.

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 11

    Ketika kedua lengan bertemu, Ma Thai Kun kaget sekali karena merasa betapa tanaganya seperti tenggelam dan tangan lawan sedemikian lunaknya sehingga ilmunya Cui-beng-ciang tidak berpengaruh sedikitpun, sebaliknya ada hawa dingin yang menjalar dari tangannya sampai ke pangkal lengan. Oleh karena ini, cepat ia menarik tangannya, menjatuhkan diri kebelakang dan bergulingan.

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 10

    Pouw Kee Lui tersenyum menyeringai. Kim-mo Taisu, jangan buru-buru merasa tekebur dan bangga. Masih ada beberapa orang sahabat yang ingin sekali bertemu denganmu. Setelah berkata demikian, Pouw Kee Lui lalu membalikkan tubuh, menjura dan memberi hormat sambil berkata, Cu-wi Locianpwe, harap sudi memperlihatkan diri!

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 9

    Bu Song mendengarkan semua itu dengan hati berdebar. Wah, gurunya telah bertemu orang-orang jahat, pikirnya. Pada saat itu, tiba-tiba telinga kanannya dijiwir orang, Bu Song kaget dan melirik. Kiranya kakek A-kwi yang menjiwirnya. 

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 8

    Kakek lumpuh itu menggerakkan tongkatnya dan... sekali berkelebat bayangannya lenyap ke dalam rumah. Bu Song melongo dan bulu kuduknya meremang. Kakek itu seolah-olah pandai terbang atau pandai menghilang saja. Ah, kalau begitu tentulah kepala rampok, biarpun tua dan lumpuh namun agaknya pandai sekali ilmunya. Ia merasa menyesal sekali. Bekerja di keluarga perampok! Celaka, kalau ia tahu, biar diupah lebih banyak lagi ia tidak akan sudi. Akan tetapi, nasi sudah masuk ke dalam perut, dan ia harus bekerja melunasi hutangnya. 

  • Suling Emas Jilid 18 Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 18 Bagian 7

    Kakek yang bernama A-liong itu memandang tajam, juga Si Nenek berpaling memandang. Sam-hwa, kau isilah padat-padat perut anak ini lebih dulu, baru suruh dia mencari air ke puncak. Ia berkata sanggup memenuhi semua tempat air di sini. Lucu, kan?

Top