Denyut Jantung Sering Terlampau Cepat setelah Berolahraga? Waspada Aritmia

Jum'at, 27 Mei 2022 - 09:49 WIB
loading...
Denyut Jantung Sering Terlampau Cepat setelah Berolahraga? Waspada Aritmia
Aritmia yang tak terkontrol berisiko menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian. / Foto: ilustrasi/ist
A A A
JAKARTA - Apakah denyut jantung Anda sering terlampau cepat setelah berolahraga atau sehabis minum kopi? Waspada, mungkin Anda mengalami kondisi yang namanya aritmia atau gangguan irama jantung.

Aritmia yang tak terkontrol berisiko menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian. Itu kenapa, kita kerap mendengar kabar artis atau atlet meninggal mendadak setelah berolahraga.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi Mayapada Hospital Surabaya, dr. Rerdin Julario, SpJP(K), memaparkan, aritmia adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan.

Baca juga: Nonton Film Srimulat: Hil yang Mustahal, Hary Tanoesoedibjo Bernostalgia Masa Sekolah

Secara normal, ungkap dr. Rerdin, jantung akan berdenyut 60-100 kali per menit.

"Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya," jelas dr. Rerdin dalam keterangan tertulis, Jumat (27/5/2022).



Aritmia biasa muncul saat berolahraga, stres, atau setelah terpapar kafein misal sehabis minum kopi atau teh. Aritmia juga bisa terjadi ketika terpapar nikotin atau obat-obatan tertentu.

Dokter Rerdin melanjutkan, aritmia bisa muncul karena faktor risiko lain, seperti orang dengan penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipotiroid atau hipertiroid, penyakit jantung bawaan, atau faktor genetik.

"Aritmia meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke 4-5 kali lebih besar dibandingkan yang tidak mengalami aritmia," kata dr Rerdin.

Baca juga: Nobar Srimulat: Hil yang Mustahal, Mari Lestarikan Seni Budaya Komedi Tradisional

Sementara itu, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada 2017 bahkan mengungkapkan aritmia jadi penyebab stroke iskemik sebesar 15-20%.
(nug)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1484 seconds (11.252#12.26)