Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 16 Bagian 6

Kho Ping Hoo : Bukek...
Bukek Siansu, Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
A A A
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu

Liu Bwee merasa betapa mukanya menjadi panas dan dia tahu bahwa tentu kulit mukanya menjadi merah sekali dan diam-diam dia memaki dirinya sendiri. Huh, apa artinya kau bertapa sampai berbulan-bulan kalau sekarang mendengar pujian dari mulut seorang laki-laki kau merasa berdebar dan girang, demikian dia memaki dalam hatinya. Untuk menutupi perasaannya, dia pura-pura tidak mendengar dan cepat bertanya,

"Bagaimana Inkong bisa tiba di tempat ini? Setahuku, di pulau ini tidak ada orang lain kecuali aku seorang."

"Memang aku tidak tinggal di pulau ini, Toa-nio...." Kembali wajah , Liu Bwee menjadi merah mendengar sebutan nyonya besar ini, laki-laki itu terlalu merendahkan diri.

"Aku adalah seorang perantau di antara pulau-pulau kosong di sekitar tempat ini, akan tetapi tidak pernah mendarat di sini karena tidak menyangka bahwa di sini ada orangnya. Sekali mendarat di sini, badai mengamuk dan kebetulan sekali aku melihat engkau berjuang melawan maut di pohon kecil itu."

"Untung bagiku. Engkau seolah-olah diutus oleh Thian sendiri untuk datang menolongku."

"Aku girang berhasil menyelamatkanmu, dan aku kagum sekali. Belum tentu ada satu di antara seribu orang yang akan dapat bertahan melawan hantaman gelombang air laut sehebat itu berkali-kali, dan kau malah masih kuat berenang. Inilah yang mengherankan aku. Seorang wanita muda...."

"Aku tidak muda lagi, usiaku sudah tiga puluh lima tahun...."

"Itu masih muda namanya, setidaknya bagiku. Seorang wanita muda...." dan mata laki-laki itu bercahaya penuh tantangan sehingga Liu Bwee tidak membantah lagi, "cantik dan berkepandaian tinggi, bukan orang sembarangan, ini sudah jelas sekali, berada seorang diri di pulau kosong. Siapa tidak akan merasa heran?"

"Aku sedang mencari puteriku yang hilang...."

"Ah...!" Laki-laki itu terkejut dan memandang penuh perhatian. "Berapakah usianya dan siapa namanya? Aku akan membantumu mencarinya." Dia bicara dengan suara mengandung keprihatinan dan perasaan iba yang jelas sekali nampak sehingga Liu Bwee merasa makin tertarik dan berterima kasih. Jelas baginya bahwa penolongnya adalah seorang laki-laki yang baik hati, sungguhpun kehadirannya di bagian dunia yang amat terasing ini bukanlah hal yang tidak aneh.

"Dia sudah dewasa, sekitar enam belas tahun, namanya Han Swat Hong...."

"Ahhh??" Kembali laki-laki itu memotong dengan seruan kaget dan matanya terbelalak memandang Liu Bwee.

"She Han...? Apa hubungannya dengan Han Ti Ong?"

"Dia anaknya...." Liu Bwee sendiri terkejut karena merasa telah terlanjur bicara maka dia menahan kata-katanya.

Laki-laki itu terkejut dan jelas terbayang di mukanya betapa jawaban ini sama sekali tidak disangkanya. Matanya memandang Liu Bwee dengan penuh perhatian dan penuh selidik, dan sampai lama dia baru bertanya. "Kalau puterimu itu adalah anak Han Ti Ong berarti bahwa... Paduka adalah Ratu Pulau Es "

Liu Bwee menarik napas panjang. Dia tidak dapat bersembunyi lagi, dan pula, orang yang telah menyelamatkan nyawanya ini memang berhak untuk mengetahui semuanya. Apalagi karena memang penderitaan batinnya adalah karena terkumpulnya rasa penasaran di dalam hatinya yang membutuhkan jalan keluar. Selain ini, sebutan "paduka" amat menyakitkan telinganya. Maka dia kembali menarik napas panjang.

"Itu sudah lalu... sekarang aku bukanlah ratu lagi, melainkan seorang buangan...."

"Apa...? Seorang permaisuri dibuang dari Pulau Es?"

Liu Bwee lalu menceritakan riwayatnya, menceritakan betapa suaminya, Raja Pulau Es telah mengambil seorang selir bernama The Kwat Lin dan betapa akhirnya karena ulah selir itu, dia difitnah dihukum buang ke Pulau Neraka!

"Puteriku Han Swat Hong, menjadi marah dan lari minggat dari Pulau Es hendak mewakili aku menerima hukuman buang di Pulau Neraka. Aku mengejarnya, akan tetapi tidak berhasil, bahkan aku tersesat ke pulau ini dank arena merasa putus harapan, aku lalu bertapa di sini sampai enam bulan lamanya. Hari ini semestinya penderitaanku berakhir, akan tetapi agaknya Thian masih hendak memperpanjang hukumanku maka aku dapat kauselamatkan..." Tak tertahankan lagi, Liu Bwee menutupi mukanya dan menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja dia terisak-isak.

"Krekkk!! Krekkk!" Ranting kayu di depan laki-laki itu telah hancur berkeping-keping karena diremasnya di tangan kanannya. "Kejam! Jahat sekali! Orang yang merasa dirinya bersih adalah sekotor-kotor orang! Seperti Han Ti Ong dan semua raja di Pulau Es! Menghukumi orang-orang dan membuang mereka ke Pulau Neraka, hidup di neraka yang amat sengsara. Akan tetapi mereka sendiri, Si Penghukum itu, melakukan kekejian dan kejahatan bertumpuk-tumpuk dan merasa dirinya benar! Betapa menjemukan! Aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menentang kejahatan dan kepalsuan macam ini!"

Liu Bwee mengangkat mukanya memandang. Kedua pipinya masih basah oleh air matanya. "In-kong, engkau siapakah dan mengapa seolah-olah menaruh permusuhan dengan Pulau Es?"

"Aku bernama Ouw Sian Kok, aku putera tunggal dari ketua Pulau Neraka."

"Ohhhh...!!" Kini giliran Liu Bwee yang menjadi kaget setengah mati karena tidak mengira bahwa penolongnya ternyata adalah musuh besar Pulau Es!

"Harap Paduka jangan khawatir..." (Bersambung)
(dwi)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 22 Bagian 4
Kho Ping Ho, Bukek Siansu...
Kho Ping Ho, Bukek Siansu Jilid 22 Bagian 8
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 20 Bagian 11
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 16 Bagian 10
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 13 Bagian 9
Kho Ping Hoo, Suling...
Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 10 Bagian 7
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 22 Bagian 13
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 12 Bagian 4
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 11 Bagian 4
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 24 Bagian 1
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 3 Bagian 2
Kho Ping Hoo, Suling...
Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 10 Bagian 6
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 23 Bagian 1
Kho Ping Hoo : Bukek...
Kho Ping Hoo : Bukek Siansu Jilid 14 Bagian 7
Kho Ping Hoo, Bukek...
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 24 Bagian 15
Rekomendasi
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Kapolri: ASN Sipil Duduki...
Kapolri: ASN Sipil Duduki Jabatan di Polri Akan Diatur lewat PP atau Perpres
Berita Terkini
Dibully Sampai Hidupnya...
Dibully Sampai Hidupnya Hancur, Ini Balas Dendam Anna di Microdrama V+Short She Was Never Gone
Nakei Tampilkan Pendewasaan...
Nakei Tampilkan Pendewasaan Musik Lewat Single Kedua 'Setengah Hadir'
Samuel Cipta Hadirkan...
Samuel Cipta Hadirkan Makna Cinta Lewat Single Terbaru Jagat Rasa
Bukan Skill Game-nya,...
Bukan Skill Game-nya, Ini yang Membuat Konten Refa Ardhi Disukai Banyak Orang
Program Loyalitas Jadi...
Program Loyalitas Jadi Strategi Pusat Belanja Menjaga Kedekatan dengan Pengunjung
Kesuksesan Refa Ardhi...
Kesuksesan Refa Ardhi di Dunia Digital Ternyata Dibangun dari Hal Sederhana Ini
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved