alexa snippet

Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 19 Bagian 8

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

kho-ping-hoo-bukek-siansu-jilid-19-bagian-8
Bukek Siansu, karya Asmaraman S Kho Ping Hoo
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu

Bagaikan dalam mimpi Sin Liong merasa seolah-olah dia terseret oleh arus yang amat dahsyat, yang membuat bibirnya membalas ciuman itu, yang memaksa kedua lengannya merangkul dan mendekap. Namun, seketika itu juga timbul hawa panas dari pusat di pusarnya, hawa panas yang naik ke atas dan membuyarkan semua hal yang membuat dia pening dan seperti mabuk itu.

Memang pada dasarnya Sin Liong adalah seorang anak yang ajaib, yang sama sekali tidak pernah dipermainkan oleh lamunan yang bukan-bukan, yang bersih sama sekali, kebersihan yang khas dan wajar, tidak dibuat-buat dan memang pada dasarnya dia memiliki kekuatan batin yang tidak lumrah manusia biasa. Maka begitu dia terserang oleh sihir yang amat mujijat, biarpun dia sendiri belum tahu bahwa ada orang jahil dan mempermainkannya, namun secara otomatis kebersihan hatinya telah meninggalkan hawa panas menolak kekuasaan asing yang kotor itu.

Begitu hawa panas naik dan membuyarkan pengaruh jahat, seperti baru terbuka mata pemuda itu. Baru tampak olehnya kepulan asap yang harum, keadaan Swat Hong yang tidak wajar. Seketika tahulah dia bahwa keadaan ini bukan sewajarnya dan pasti dibuat oleh seseorang yang jahat. Begitu telinganya menangkap suara gerakan dari kiri, dia cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang kakek tua yang duduk bersila dan meluruskan kedua lengan ke arah mereka, dan dari kedua lengan itu, juga dari kedua matanya, menyambar tenaga mujijat ke arah mereka.

Lengking yang panjang dan nyaring dahsyat dan mengandung getaran tenaga sakti dari dalam pusarnya, keluar dari mulut Sin Liong dan dia sudah meloncat berdiri. Lengking yang dahsyat itu menyebar getaran sedemikian kuatnya sehingga kekuatan sihir yang dipergunakan Ouwyang Cin Cu buyar sama sekali, bahkan tubuh kakek itu tergetar. Swat Hong juga terbebas dari cengkeraman sihir itu, dia menjadi pucat sekali, terbelalak, mengeluh perlahan lalu terguling roboh, pingsan!

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ouwyang Cin Cu ketika dia sedang menikmati hasil ilmu sihirnya, melihat betapa muda-mudi itu sudah mulai terpengaruh, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking sedemikian dahsyatnya sehingga dia merasa betapa jantungnya seperti akan copot! Melihat betapa pengaruh sihirnya buyar, dia segera bangkit berdiri.

"Manusia jahat, apa yang telah kaulakukan?" Sin Liong menegur dan melompat ke depan kakek itu.

Kakek itu mengerahkan tenaga mujijatnya, disalurkan melalui tangan kanannya yang dibuka jari-jari tangannya dan diselonjorkan ke arah muka Sin Liong, memandang tajam sambil berkata, "Orang muda, berlututlah kau di depan Ouwyang Cin Cu...!"

Akan tetapi, untuk kedua kalinya kakek itu mengalami kekagetan. Biasanya, setiap orang lawan akan dapat dibikin tidak berdaya dengan kekuatan sihirnya. Akan tetapi sekali ini pemuda itu hanya memandang kepadanya dengan sinar mata jernih halus dan sama sekali tidak berlutut seperti yang diperintahkannya dengan suara berwibawa itu.

Dia memperhebat pencurahan tenaga sihirnya, namun tetap saja pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh. Tentu saja Sin Liong dapat merasakan serangan tenaga mujijat ini, dia merasa betapa ada hawa yang menyerangnya, keluar dari lengan dan pandang mata kakek itu, yang membuatnya tergetar dan seperti ada kekuatan mujijat memaksanya agar dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Namun dia mengerti bahwa hal itu tidak semestinya dan tidak sewajarnya, maka dia tidak mau mentaati perintah itu melainkan memandang dengan sinar mata tajam penuh teguran kepada kakek yang dianggapnya jahat itu.

Melihat betapa kekuatan sihirnya sekali ini tidak berhasil, Ouwyang Cin Cu menjadi penasaran sekali. Sihirnya boleh gagal akan tetapi dia masih memiliki ilmu silat dan kekuatan yang dahsyat. Dara itu cantik menarik. Usahanya menikmati tontonan yang tidak senonoh gagal, maka sebaiknya pemuda ini dibunuh saja dan dara itu ditawan!

"Mampuslah kau...." Bentaknya penasaran dan kini dia tidak menggunakan ilmu sihir lagi, melainkan meloncat dan menerkam seperti seekor serigala kepada Sin Liong, tangan kirinya mencengkeram ke arah dahi pemuda itu sedangkan tangan kanannya dengan jari terbuka membacok ke arah dada kiri lawan.

"Plak! Desss...!" (Bersambung)
Top